Skip to content

Orang Spesial Itu Bukan Winu

by pada 9 September 2013

Tumben dingin sekali malam ini. Tanpa baju hangat, pasti tubuh tipisku ini akan menggigil. Tapi tak apa, nikmati saja, syukuri dan jalani. Toh dinginnya malam justru menghadirkan kesejukan tak terkira, hingga kerelung kalbu. Kesejukan yang sangat mahal untuk bisa kunikmati, mengingat kota tempat tinggalku memiliki kecenderungan beriklim panas. Sejuk ini benar-benar membuat otak dan hatiku malam ini lebih dingin. Hingga tergoda untuk kembali menoreh kisah di blog yang lumayan lama kutinggalkan dan tak kutengok-tengok karena kesibukan ini. Aaah, bahkan untuk masukpun lupa passwordnya, terpaksa harus tanya Winu dulu.
Makin tergerak lagi hasratku setelah mendapat pertanyaan dari seseorang lewat jejaring social WhatsApp (WA). “Kita ke Bromo dulu bulan apa ya?”. Hanya sebuah pertanyaan lewat sih melalui akun di jaringan pribadiku. Bahkan mungkin yang bertanya pun sudah lupa dan tak menganggap apa-apa (heheheheee). Aku aja yang kecentilan hingga diam-diam hati dan pikiran ini kembali teraduk-aduk mengenang masa itu. Masa-masa saat kureguk dunia lajangku, di sebuah kota yang berhawa sejuk dan dingin. Maaf ya Winu, kali ini bukan tentang dirimu, aku ingin flashback ke masa remajaku sebelum mengenalmu dulu. Karena ada seseorang yang sangat special dihatiku saat itu, sangat kupuja dan kudambakan (ooowhh…lebaynya).
Saai ini, keakrabanku terhadap sosok yang akan kukisahkan ini, juga sebatas terjalin melalui media social tak ubahnya jalinan hubunganku dengan Winu. Secara kami jauh terpisah, berada di beda pulau. Berawal sebatas menyapa, lama kelamaan lebih sering dan kembali akrab karena kami punya group jebolan teman-teman satu kampus saat menempuh pendidikan di Malang dulu. Lumayan, lewat group itu pula kami bisa saling berkelakar melepas penat, mengurangi stress atas rutinitas yang hari-hari kujalani.
Aaahh…selalu tak jauh-jauh dari cinta temanya. Tapi mau bagaimana, pengalaman hadirnya cinta dihati seseoranglah yang membuat hidup lebih berwarna warni dan dramatis. Seperti cintaku pada sosok pria yang satu ini. Sebut saja Disa. Karena tak mungkin kusebut nama aslinya.
Jika dibilang kisahku ini indah untukku, mungkin tidak. Karena pengalaman cintaku kali ini lebih banyak sakitnya. Bagaimana tidak, wong yang kucintai pacar sahabatku yang sesungguhnya juga sudah punya pacar (calon). Nah, makin rumit kan? Iya, memang sedikit rumit dan gila. Tapi begitulah adanya. Disitulah letak dramatisnya, meski menyakitkan namun tetap berarti bagiku. Sebuah pengalaman cinta yang sangat membekas hingga sekarang. Bahkan mungkin masih tersisa, entahlah.
Sebenarnya bukan tanpa alasan bila kubilang “masih tersisa”. Sebab meski telah tertindis dengan kisah-kisah cinta lain dalam hidupku yang lebih “ekstrim”, nyatanya sampai sekarang masih juga ada rasa yang berbeda, meski sempat terlupakan. Jelas rasa ini berbeda dengan rasaku terhadap Winu. Dari caraku mencintai pun jauh berbeda. Sekali lagi maafkan aku Winu. Bukan maksudku ingin membanding-bandingkan dirimu dan dirinya, tapi waktulah yang menciptakan perbedaan itu. Anggap saja ini cinta gadis lugu, pemimpi, kepada sosok pria yang tak mungkin terjangkau olehnya. Menyedihkan ya? Sekali lagi, begitulah adanya.
Jika ada yang bilang cinta datang dengan sendirinya, tentu aku sangat tak setuju. Tak ada asap jika tak ada api. Ya, begitulah timbulnya rasa cintaku kepada Disa. Terlalu banyak sifat Disa yang membuatku kagum dan membutakan hatiku saat itu. Sebagai sosok yang lebih dewasa dan matang secara usia, boleh dibilang Disa selalu lebih unggul dalam hal pola pikir, diantara puluhan teman-teman mahasiswa yang jadi teman sekelasku saat itu. Bahkan kedewasaannya membuatnya jadi tempat “ngesampah” atau curhat teman-teman termasuk aku. Dia juga selalu melahap materi kuliah yang bikin otakku puyeng. Sejumlah kelebihan itulah yang meningkatkan daya tarikku terhadapnya. Bukan omong kosong, terbukti dia jadi programmer yang handal sekarang. Selamat ya Disa! Sukses selalu untukmu!

Begini kisahnya
Pertama Dipeluk Lelaki
Kampus kecil yang terletak di Jalan Jakarta, Malang Jawa Timur siang itu tampak sepi (sekarang kampusnya sudah pindah). Mungkin karena mahasiswa tingkat I sampai III usai melaksanakan ujian tugas proyek (TP), eeh bukan libur pasca ujian, entah libur panjang apa waktu itu tepatnya sudah lupa. Memang tak banyak kelas yang disediakan lembaga pendidikan yang mencetak Yunior System Analist itu. Satu angkatan hanya menyediakan satu kelas yang berisi maksimal 20 mahasiswa (seingatku, karena sudah sangat lama, sekitar pertengahan tahun 1995 an).
Bangku panjang dari kayu yang dijejer di teras kampus hanya diduduki kami berempat dari kelas II D. Ada Wida, Disa, Wati, Erick dan aku sendiri. Sebenarnya memang sudah tak ada jam kuliah lagi, tapi kami dari kelas II D sedang punya gawe, merencanakan mengisi waktu libur kuliah dengan camping ke gunung Bromo, Malang, Jawa Timur. “Pokoknya aku harus ikut,” celetuk Disa yang kuingat saat itu dihadapan teman-teman lain. Aku masih belum terlalu mengenal sosoknya dan belum tertarik. Yang kutahu dia adalah teman yang ngocol dan asik candanya.
Meski berasal dari ragam suku, aku bersyukur mendapat teman-teman satu kelas yang sangat kompak dan setia kawan. Ada Wati dari Kaltim bersuku Banjar yang sangat dewasa dan care terhadapku, aku sering numpang tidur di asrama Kaltim saat dirundung sepi karena teman-teman kos pada mudik. Ada Disa yang saat itu juga masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang yang otaknya paling brilliant dan sering membantuku menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Ada Wida, gadis Bali yang sebenarnya keturunan Jawa yang sangat peduli dengan masalah pribadiku, dan Erick cowok yang sedikit usil tapi baik, dan masih banyak teman-teman lain yang saling dukung dalam suka duka.
Atas kesepakatan teman-teman satu kelas, akhirnya kami menetapkan hari dan tanggal yang tepatnya aku lupa. Yang jelas saat itu aku hampir tak bisa ikut, karena dilarang oleh orang tua. Tapi bukan aku kalau tak berani ambil tindakan nekat. Dengan caraku, akhirnya aku bisa ikut bersama rombongan ke Bromo.
Menikmati hawa dingin pengunungan sungguh menjadi hal baru buatku. Dan saat itulah pertama dan terakhir kalinya aku benar-benar menjamah yang namanya gunung. Kereeen dan tak terlupakan. Tak terlupakan lagi kisah dibalik keindahan gunung Bromo itu.
Malam itu, saat bulan bersinar terang meski bukan purnama, dan bintang-bintang berebut memancarkan sinarnya, kami tengah asyik bercengkerama dalam sebuah tenda yang kami dirikan di ground camping, tak jauh dari kompleks penginapan gunung Bromo. Tentu dengan tubuh kami yang menggigil, meski sudah berlapis-lapis baju hangat sekalipun. Celakanya, toilet berada cukup jauh dari tempat kami berkemah, mungkin lebih dari setengah kilo meter. Bayangkan jika saat itu ada yang kepengen buang air kecil. Celakanya rasa itu datang padaku.
“Kak, pengen pipis, tolong temenin dong,” pintaku memelas pada Wati yang biasa kami sapa Kak Wati.
“Wah…ga berani minta tolong laki-laki aja,” celetuknya.
“Yuk kuantar…!” tiba-tiba Disa menawarkan jasa.
Kamipun langsung memacu langkah menuju ke toilet umum dengan menyusuri perbukitan yang sangat gelap. Tak hanya hawa dingin yang mencekam malam itu, tapi juga suasana sepi benar-benar membuatku sangat tegang dan ketakutan. Seolah paham dengan kondisi itu, Disa pun memeluk bahuku sangat erat dengan tangan kanannya. Demikian pula denganku, kulingkarkan tangan kiriku kepinggangnya seerat mungkin. Mencekam, hanya rasa itu yang terlintas dibenakku saat itu. Hingga sampai ke toilet yang kami tuju, hanya suara jangkrik dan binatang-binatang malam lainnya yang mengiringi perjalanan kami yang terasa sangat lama. Benar-benar kami saling membisu tanpa suara.
”Alhamdulillah…untung tak ada apa-apa,” syukurku dalam hati saat kembali dan mulai melihat tenda kami dari kejauhan. Rasa takutpun sirna, berganti dengan rasa lain. Mengingat Disa masih memelukku, tiba-tiba ada desiran aneh dihatiku.
“Kita ke atas bukit dulu yuk!” ajak Disa saat kami sudah berada di depan tenda. Tak pikir panjang akupun mengiyakan ajakan itu. Dengan perlahan ia menarik tanganku dan membimbingku mencapai bukit yang sedikit lebih tinggi, tepat di atas dimana kami mendirikan tenda. Sebenarnya ada dua tenda yang kami dirikan, satu untuk laki-laki dan satu lagi untuk perempuan. Tapi malam itu teman-teman lebih memilih bergabung di satu tenda agar tetap terjaga.
“Nah, duduk disini enakkan, lihat itu, indah sekali langitnya,” ucap Disa sambil menunjuk ke langit dan menarikku untuk duduk didekatnya. Tangannya pun dilingkarkan ke bahuku hingga aku larut dalam dekapnya. Bukannya langit malam itu yang kunikmati, tapi debaran jantung yang begitu kencang yang tiba-tiba kurasakan. Diusiaku yang baru menginjak 18 tahun, benar-benar untuk pertamakalinya secara fisik aku berada paling dekat dengan sesosok pria. “OMG, entah rasa apa ini namanya,” begitu pikirku saat itu.
Tah hanya itu, wajah kamipun sangat dekat. Sambil berbisik Disa mendekatkan bibirnya ke telingaku. Dan entah apa yang dibisikkannya saat itupun aku tak ingat. Mungkin karena aku lebih sibuk dengan rasa gugup, karena debaran-debaran yang menurutku sangat aneh kurasakan. Mungkin seandainya saat itu aku sadar, itulah yang namanya “terjerembab dalam suasana romantis” (alay ya,heheee ). Yaaah, keromantisan yang tak pernah kusadari. Keromantisan yang dengan susah payah kuhindari dan kutolak karena kuanggap sangat tabu. Antara takut dosa dan penasaran untuk ingin lebih menikmati berkecamuk jadi satu. Benar-benar aku sibuk dengan rasaku sendiri, hingga tak tau lagi apa saja yang sudah diucapkan Disa saat itu.
Tak ingin berlama-lama dihinggapi rasa gugup, akhirnya kuputuskan untuk masuk ke tenda. Meski belum sempat kunikmati indahnya langit malam itu. Fatalnya, rasa gugup membuatku tak konsentrasi saat beranjak pergi dan melepaskan diri dari dekapan Disa. Akupun jatuh, tergelincir dan berguling-guling sampai pas mendarat di depan tenda. “Ups, untung teman lain tak ada yang dengar, mungkin ini hukuman dari dosa tadi,” begitu hatiku bicara saat itu. Dan entah bagaimana muka Disa saat melihat kejadian itu. Aku tak peduli, yang kuingin saat itu hanya membebaskan diri dari rasa aneh yang merasukiku tanpa ingin melihat wajahnya lagi.**

Cinta Bersemi Diakhir Pendakian
Pukul 03.00 Wib dinihari, kami sudah bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Tak satupun dari kami ingin kehilangan moment yang sangat dinanti para pendaki, indahnya menikmati sun rise dari puncak gunung Bromo. Rasa dingin yang berlipat-lipat terkalahkan oleh semangat untuk mencapai puncak. Ground camping pun kami tinggalkan. Erick yang memang sudah lebih berpengalaman mendaki gunung memimpin kami.
Perjalanan ke puncak dengan melewati lautan padang pasir sepanjang kurang lebih 12 Km kami tempuh dengan berjalan kaki, terasa berat bagiku. Lumayan ngos-ngosan untuk pendaki pemula seperti diriku. Terlebih saat melewati anak tangga demi anak tangga untuk mencapai sisi kawah yang masih aktif itu. Tapi rasa lelah itu seakan terbayar dengan indahnya panorama yang kami nikmati. Terlebih saat matahari mulai muncul. Di dasar kawah terlihat warna keemasan belerang dan kepulan asap putih yang menjulang ke atas, menyebarkan bau belerang. Sungguh panorama yang menakjubkan, Subhanallah.
Meski belum terlalu puas berada di atas puncak Bromo, kami memutuskan untuk segera turun. Karena kami tak ingin terpanggang teriknya matahari saat melewati padang pasir. Untuk menuruni puncak, kami kembali menuruni anak tangga yang begitu panjang dan cukup melelahkan bersama wisatawan lainnya. Setelah sampai di bawah, banyak penduduk lokal yang siap dengan kudanya untuk disewakan. Tak pikir panjang, aku memilih menyewa kuda untuk mencapai ground camping. Tak tahan rasanya membayangkan kembali berjalan kaki menyeberangi lautan padang pasir itu. Akupun memisahkan diri dari rombongan dan dahulu memacu kuda. Tak terlalu laju sih, karena ada pawang kuda yang menyertaiku.
Benar saja, tak sampai 15 menit aku berhasil mencapai tenda masih dengan kuda yang kusewa. Betapa kagetnya saat kulihat sosok Disa sudah berdiri di depan tenda. “Loh, apa dia tadi tak ikut mendaki?” pikirku. Aku yang masih canggung dengan peristiwa semalam tak ingin ambil pusing dengan itu semua. Akupun turun dari kuda dan membayar paman pemilik kuda sewaan itu.
Siang itu, selepas melakukan pendakian, kami menghabiskan waktu dengan bercanda sengocol ngocolnya selayaknya anak muda yang asyik menikmati kebebasan. Sesekali petikan gitar Huget, mengiringi kami bernyanyi. Lagi-lagi polah tingkah teman-teman mengocok perut kami. Tak terkecuali Disa. Secara diam-diam aku sering memperhatikan gerak geriknya tanpa ia sadari. Entahlah, rasa ini tak sama dengan sebelum terjadi peristiwa malam itu, malam disaat aku diajaknya melihat langit dan terjatuh.
Perasaan aneh itu semakin bergelayut direlung hatiku saat kami harus mengakhiri liburan dan berpisah pulang ke rumah-masing-masing. Ada rasa yang hilang dan seakan tertinggal disebuah tempat yang jauh. Serasa tak ingin berlama-lama libur dan ingin sesegera mungkin kuliah lagi, bertemu dengan teman-teman, bertemu dengan Disa dan kengocolannya. Aaah, itulah awal mula rasaku muncul terhadap Disa. Jatuh cinta, yah aku telah jatuh cinta terhadap pria yang sama sekali tak pernah punya rasa apa-apa terhadapku.**

Sakitnya Sakit
Waktu libur telah usai. Saatnya aku kembali ke Malang. Kembali bertemu dangan teman-teman yang kurindukan, termasuk Disa. Disa yang supel dan gemar “menggoda” teman perempuan sekaligus menolong tak membuatnya sulit untuk bisa dekat dengan siapapun. Bahkan, aku dan Wida (teman yang akhirnya menjadi sahabatku) mempunyai julukan khusus untuknya. Kami memanggilnya “Om”, sebenarnya lebih tepat jika disebut sebuah panggilan penghormatan. Yah…kami tambah akrab satu sama lain. Peristiwa di Bromo itu perlahan-lahan mulai kulupakan.
Selama menghabiskan waktu mengikuti perkuliahan hingga tamat, selama itu pula aku harus menyimpan rapat-rapat rasa cintaku terhadap Disa. Aku harus terima kenyataan bahwa Disa yang sesungguhnya sudah bertunangan itu lebih mencintai sahabatku Wida. Anehnya, meski tahu bahwa dia berselingkuh dari tunangannya dan menjalin hubungan dengan Wida, tak sedikitpun menyurutkan rasa cintaku terhadapnya. Jadi benar saja yang sering orang katakan, “bila cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat” hahahahaaa….
Hari-hari sering kami habiskan bersama, kadang bertiga. Hari-hari itu pula aku harus menahan rasa sakit karena tak pernah dianggap ada. Sebatas teman dan sahabat, begitulah Disa menganggapku. Berada dekat disisinya saja sudah membuatku senang. Naif memang, mempertahankan hubungan diatas rasa cemburu, tapi sekali lagi begitulah adanya. Bukannya aku ingin menyakiti diri sendiri, dan bukannya aku ingin melihat seperti apa akhirnya, nothing to lose aja. Toh semua salahku sendiri jika didalam hatiku selalu ada tangis yang tak terlihat oleh mereka. Mungkin jika saat itu sudah tercipta lagunya Pinkan Mambo “Kekasih Tak Dianggap”, aku akan sering menyanyikannya.
Hingga setelah tamat dari lembaga pendidikan itu, berbekal nekad kuputuskan untuk merantau ke seberang pulau. Tempat yang lumayan jauh dari kampung halamanku. Aku pergi meninggalkan kedua orang tua bersama rasa sakitku. Rasa sakit bertepuk sebelah tangan. Dengan harapan aku bisa menemukan duniaku yang baru dan melupakan Disa selama-lamanya. Tentu saja tak hanya itu, aku juga ingin mengadu nasib mencari keberuntungan demi masa depanku. Dan di pulau itulah akhirnya benar-benar kutemukan dunia baru, sahabat-sahabat baru, bahkan kekasih hati, dan itu Winu, meski akhirnya Winu juga bukan jodohku.**

Iklan

From → Cerita Uniw

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: