Skip to content

Pendosa Memaknai Cinta

by pada 25 Mei 2013

Ini juga masih belum menginjak kisah. Sebab ada rasa mengganjal bila tak kuutarakan perspektifku yang satu ini. Meski sedikit basi namun tetap kuanggap perlu. Yah…tentang cinta, bagaimana aku memaknai cinta dulu dan kini. Tentang cinta di masa lajangku dan cinta sejati yang kumiliki. Sebab pandanganku ini akan mendasari seluruh kisahku, tak terkecuali kisah percintaanku dengan Winu dulu. Selayaknya manusia lain yang roman hidupnya tak pernah lepas dari cinta, aku sepaham dengan kata penyanyi lawas Doel Sumbang, “sebab kita sengsara bila tak punya cinta” dalam penggalan lirik lagunya.

Seiring berjalannya waktu, ternyata aku bukan tipe wanita yang konsisten dalam memaknai cinta (begitulah aku menilai diriku). Saat ABG dulu, bisa dibilang cintaku sangat idealis. Mungkin karena saat itu diriku belum terkontaminasi pergaulan hidup yang lebih liar. Dididik dan dibesarkan dari keluarga yang menjunjung tinggi adat dan adab, cukup membekaliku untuk bisa bersikap idealis dalam banyak hal termasuk memaknai cinta.  Meski itu tak bertahan lama. Idealisku tentang cinta hanya bertahan hingga saat aku duduk di bangku kuliah saja. Dimana aku masih selalu memegang teguh tatanan norma, jauuuuh dari bayangan free sex. Jangankan berciuman dengan lelaki, bersentuhan tanganpun sangat tabu bagiku saat itu. Kenapa kubilang “lelaki” bukan “pacar”? Sebab saking kuatnya prinsip idealisku dimasa ABG itu, hingga sampai mengenyam bangku kuliahpun aku masih belum pernah berpacaran dalam arti “kebanyakan” yang dijalani anak muda sekarang. Kalaupun ada lelaki yang hadir dan menorah rasa dihatiku, bisa dibilang itu hanya sebatas bayang-bayang. Karena cintaku tak pernah kutindaklanjuti dengan sempurna.  

Setelah aku menjadi sosok yang “merdeka”, dalam arti aku tak lagi bergantung pada jatah bulanan yang harus disiapkan orang tuaku, ternyata benar-benar lain ceritanya. Entah karena rasa kemarukku akan kebebasan, atau mungkin sifat dasarku yang doyan mencoba hal-hal baru, aku menelan cinta demi cinta dalam hidupku dengan begitu mudahnya. Tak dipungkiri, cinta selalu berjalan seiring dengan birahi dan ego. Bahkan selalu meledak-ledak. Aku jadi penikmat cinta yang saat itu kurasakan begitu gurih dan renyah untuk dijalani.

 Kebebasan itu seolah membius lajangku. Merasakan dinamika hidup dirantau orang ternyata mengubah pandanganku tentang cinta. Begitu sederhananya cinta, hingga tak sulit bagiku menemukan cinta itu, seperti halnya aku menambatkan hatiku pada Winu dulu, yang secara tiba-tiba. Bahkan diluar logika dari caraku menerimanya (karena saat itu sedang mabuk). Yah…mabuk dalam arti yang sesungguhnya, mabuk kebebasan, mabuk alkohol  dan barang haram lainnya. Perpaduan kehidupan “hitam dan putih” silih berganti kujalani pada masa transisi itu. Dorongan “birahiku” untuk mencoba-coba “kemaksiatan” begitu kuatnya hingga mampu mendobrak norma yang selama ini kujunjung tinggi. Bukan berarti tanpa “perang batin”.

Aku takkan menyalahkan lingkunganku. Aku juga tak pernah menyalahkan sahabat-sahabatku karena bukan mereka yang menyeretku dalam dunia mereka dan saat itu juga menjadi duniaku. Semua begitu entengnya kujalani tanpa beban, benar-benar “liar”. Mungkin keingintahuanku yang saat itu lebih dominan. Keingintahuan gadis kampung lugu yang hingga menginjak umur 20 an masih memegang kuat prinsip hidup dengan norma-norma agamanya. Lingkungan kerjaku sebagai wartawati benar-benar jadi dunia baru bagiku, sebuah dunia yang mampu membuatku larut dan terjerembab di dalamnya. Aku semakin akrab dengan hingar bingar kehidupan malam.  Eiits…hampir lupa, ceritanya nanti saja. Bukankah sekarang aku hanya ingin ngomongin cinta. Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar cinta atau sekadar sayang pada Winu. Ahh…tak penting lagi lah itu semua, toh ceritanya sudah lewat. Yang kuingat, hampir empat tahun kujalani percintaanku dengannya.  Jadi sekali lagi nanti saja ceritanya. Cerita masa muda yang sebagian membuatku geleng-geleng kepala dan mengurut dada bila mengingatnya. Cerita yang membuatku lebih banyak beristighfar dan melakukan sholat taubat. Bukankah Tuhan Maha Pengampun?

Percayalah, aku takkan ragu untuk mengurainya meski cibiran itu mungkin akan datang dari pembaca yang singgah. Toh setiap manusia pasti punya sisi kelam. Tak selamanya sisi kelam itu harus dikubur dalam-dalam. Kadang sesekali perlu diangkat sebagai refleksi diri, agar kita lebih bisa mawas diri, agar kesadaran dalam memaknai hidup semakin dewasa. Anggaplah kita sedang melihat rekaman hidup kita, yang membuat kita tertawa, bahagia, menangis, sinis, marah bahkan malu pada diri sendiri. Ambil saja makna pembelajarannya. Semakin banyak keruwetan, semakin banyak pembelajaran.

Yang perlu kugaris bawahi, penafsiran orang tentang cinta mungkin berbeda-beda. Ada yang bilang, cinta itu sebuah rasa yang selalu disertai ketulusan. Ada pula yang berpendapat, cinta itu selalu menuntut imbal balik, nah loh?!  Sangat bertolak belakang kan? Makanya aku cenderung memandang dari sudut yang sederhana. Cinta itu, sesuatu yang bisa menggetarkan jiwa, mengaduk-aduk rasa, menjungkir balikkan manusia bahkan untuk seorang perfeksionis atau idealis sekalipun tak akan berdaya dibuatnya. Hal-hal tak logis diluar kewajaran akan dilakukan bila manusia sudah dirasuki yang namanya bibit cinta, tak peduli itu cinta sesaat sekalipun. Sekecil apapun kadar cinta seseorang, kebanyakan akan dibuat “gila” saat terjangkiti.

Jadi, cinta di mataku merupakan sebuah rasa yang kuat, sebuah rasa yang mampu menerangi hidup seseorang ataupun sebaliknya (bila bertepuk sebelah tangan). Cinta selalu indah dirasakan namun tak selalu indah untuk dijalani bila cinta jatuh pada orang yang tak tepat. Cinta selalu menimbulkan birahi bagi siapa saja yang terjangkiti. Tak perlu kusangkal aku tipe wanita yang mudah jatuh cinta. Meski demikian, ketertarikanku pada pria tak main obral begitu saja. Aku tetap punya kriteria, terutama menyangkut “otak”.

Terlepas dari itu semua, cinta sangat layak diapresiasi dan dinikmati dalam hidup ini. Sebab cinta tak datang begitu saja. Bahkan cinta seorang PSK (pekerja sex komersial) sekalipun, tetap layak dihargai. Sekali lagi aku juga sepaham dengan penyair  Kahlil Ghibran dalam kumpulan puisi indahnya “Sayap-sayap Patah”, “…Apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia walau  jalannya berliku-liku…Dan, apabila sayapnya merangkuhmu…pasrahlan serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…“. Betapa kuat makna cinta yang terkandung dalam bait indah tersebut.  Hingga sempat tersirat dibenakku, apa jadinya jika aku tak pernah menikmati cinta yang sesungguhnya hingga diujung usiaku.

Sayangnya tak selamanya manusia punya kesempatan untuk “menikmati” cinta mereka dengan cara yang membahagiakan. Aku yakin, bahkan ada yang memendamnya sampai dibawa mati. Kalaupun menjadi penikmat cinta, semua ada masanya. Seperti masa ku yang sekarang, dimana cara pandangku terhadap cinta sudah jauh beda. Lebih penuh kendali dan “beretika”. Tak lagi meledak-ledak dan penuh birahi. Harus demikian adanya. Fase demi fase kehidupan memang harus dijalani. Semua ada masa dan batasnya. Tah hanya menyesal, aku juga bersyukur pernah menjadi penikmat cinta dimasa lajangku meski berbeda tipis dengan “pendosa” jika dikaitkan dengan norma agama. Aku bersyukur masih cukup punya waktu untuk menyadarinya, bahkan menulisakannya.  **Uniw    

Iklan

From → Cerita Uniw

One Comment
  1. cinta itu di dalam hatinya ada emosi yang menggebu-gebu dan tindakan praktisnya adalah ketaatan. mauy menuruti orang yang dicintai apapun yang diperintahkan. akibatnya cinta menuntut pengorbanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: