Skip to content

Rules of the Blog

by pada 24 Mei 2013

Jadi begini. Pada dasarnya kolaborasi ini bermula dari entah kegenitan atau kerinduanku kepada Uniw. Ya, sesuatu yang sampai posting ini kutuliskan belum pernah kukatakan secara terus terang kepadanya.

Bertemu lagi dengan Uniw di Facebook, setelah lebih satu dekade berpisah, wanita dari masa laluku ini kembali menghadirkan romansa yang pernah terbangun di antara kami berdua. Sahut-sahutan di status, saling memberi komentar di kiriman foto, sesekali menyapa kawan-kawan lain yang mengenal kami, sebenarnya berlangsung biasa saja. Aku sibuk dengan hidupku. Dia pun sibuk dengan hidupnya. Rasanya tidak ada cukup waktu untuk sekadar berpikir membangun sesuatu yang baru, apalagi menyambung cerita yang dulu pernah ada.

“Aku sih biasa aja, nggak ada perasaan apa-apa lagi kok. Aku bahkan bersyukur melihatmu tampak bahagia sekarang ini,” kataku kepada Uniw. Tentu saja kami berbincang lewat inbox FB, yang private, tak diintip orang lain. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin mengatakan itu kepadanya.

Lalu kami saling bertukar PIN blackberry. Kemudian obrolan berlanjut lagi. Sesekali mengenang cerita masa lalu kami yang begitu bergelora, meledak-ledak dan, kalau Uniw bilang sih, indah meski agak membabi buta hehehe.

“Dan aku sudah menulis kisah kita itu lho. Udah jadi naskah novel malah. Tapi kusimpan aja untuk koleksi pribadi,” Uniw membuka cerita.

Haaaa…. Apaaa? Aku terkejut. Lalu surprised. Aku tau Uniw pernah menjadi reporter surat kabar di kota kami tinggal dulu. Tapi menulis novel? Itu nggak dia banget deh.

Maka akupun memaksa dia mengirimkan naskahnya. Kuberi alamat emailku. Kuminta dia mengirimkan secepatnya. Nggak sabar mau baca. Selain ingin tau apa dia memang benar-benar bisa menulis (sampai sekarang kadang aku memang meragukan hal itu hahaha), aku juga mau tau dia menulis apa tentang aku. Kisah baik kah? Atau kisah buruk mengingat memang ada sejumlah sikap buruk dariku yang membuat hubungan kami dulu itu bubar begitu saja.

Uniw berjanji mengirimkan naskah itu pada kesempatan pertama sepulangnya ke rumah nanti. “Karena filenya ada di external disk di rumah. Dan ini aku masih di kantor…”

Beberapa tahun terakhir, setelah menikah dengan lelaki teman masa kecilnya sejak SD sampai SMA, Uniw bekerja di sebuah kantor penerbitan di kota tempat ia tinggal. Kota di mana dulu cinta kami bersemi, mekar, lalu bubar itu. Kota yang sudah kutinggalkan lebih satu dekade, bersamaan dengan aku meninggalkan Uniw. Meninggalkannya begitu saja.

Uniw bertahan di kota itu, kota rumah cinta kami itu, yang sebenarnya bukan kota asalnya juga, tetapi justru kota asalku, menjalani hidup berliku yang… ah, biarlah nanti Uniw sendiri yang bercerita. Sementara aku melanglang ke kota-kota yang jauh, sampai akhirnya berlabuh di kota tempat aku tinggal sekarang, yang berjarak ratusan kilometer dari kota Uniw tinggal, menyeberang laut karena berbeda pulau, dan perlu sekurangnya 2 jam durasi perjalanan dengan pesawat terbang.

Hari itu, hari saat Uniw berjanji mengirimkan naskah itu, hatiku sumringah. Kalau saja ada bibit bunga ditabur di hatiku saat itu, pasti akan langsung tumbuh subur. Maka dua jam kemudian setelah kulihat status BBM-nya yang menyebut kata syukur sudah sampai di rumah, naskah itu langsung kutagih. “Mana? Udah diemail belum? Aku nunggu nih…”

Uniw mengirim icon tertawa. Lalu icon tepok jidat. Dia bilang masih rempong ngurusin dua putri kecilnya. “Gini deh nasib ibu mandiri tanpa bantuan asisten. Semua dikerjakan sendiri. Pulang kerja, ngurus anak dulu,” katanya.

Sampai malam melarut, dan mungkin dia kelelahan, aku tak menagih lagi. Kupikir dia pasti tak sempat buka laptop untuk mengirimkan naskah itu. Aku masih bisa menunggu besok. Akupun tidur bersama mimpi tentang seorang peri, yang mendongeng kepadaku mengenai kisah cinta dua remaja yang samar-samar mirip aku dan Uniw. Ah, mellow sekali.

Esoknya, kabar itu bikin aku terkejut untuk kedua kalinya. Uniw bilang external disk-nya error. Tak bisa dibuka. Foldernya blank, tidak ada isi file apa-apa. “Padahal semua fileku di sini, termasuk foto-foto,” katanya.

Berbagai cara dicoba, sampai beberapa hari kemudian, Uniw menyerah. Hilang sudah naskah itu. Catatan mengenai perjalanan hidup, yang aku sempat sedikit ge-er di dalamnya ada banyak cerita tentang aku. “Ya sudah, tulis lagi aja,” kubilang…

Pasti tidak gampang. Apalagi Uniw sibuk sekali sekarang. Bekerja. Mengurus anak. Mengurus rumah.

Lalu entah ide dari mana, dia minta dibuatkan blog. “Aku dulu punya blog, tapi sudah lupa password-nya. Nggak bisa kubuka lagi. Lupa juga cara bikin posting. Kamu bikinin aja yang baru ya…. Ya… ya… plisss,” dia merengek… Ah, rindunya aku pada rengekan wanita ini hahaha…

Maka lahirlah blog ini. Ternyata malah bukan blog untuk Uniw sendiri. Tapi untuk kami berdua. Saat ingin membuatkan blognya itu, terpikirlah di kepalaku kenapa tidak membuat sesuatu yang kolaboratif saja: “sebuah blog yang diisi dua orang, aku dan kamu,” kataku setengah merayu.

Rupanya yang dirayu langsung setuju. “Ide yang bagus. Aku mau. Pasti rame ya kita nulis dengan gaya kita masing-masing, dengan perspektif kita, dengan sudut pandang kita, tapi ditampilkan di tempat yang sama,” katanya.

Lalu disepakatilah rules of the blog versi kami berdua. Berlaku hanya untuk blog UniwinU ini saja. Yaitu:

Penulis anonim. Sebab berbahaya sekali buat keluarga dan rumah tangga kami masing-masing, kalau sampai pakai identitas asli. Gimana aku dan Uniw bisa menuliskan kisah cinta masa lalu kami, juga perasaan-perasaan kami saat ini, secara apa adanya, kalau dengan identitas asli? Masing-masing kami punya pasangan yang harus dijaga perasaannya.

Tidak saling intervensi. Dengan dua penulis, blog ini dikelola oleh kami berdua, tanpa pihak ketiga yang menjadi editornya. Tidak juga di antara kami boleh saling mengedit. Sehingga Uniw bisa menulis apapun, termasuk tentang aku, begitupun sebaliknya.

Boleh saling menanggapi. Mungkin akan ada tema-tema tertentu yang membuat aku dan Uniw akan tidak sependapat. Menjadi berdebat. Atau malah saling bantah. Entah kisah masa lalu yang tak sesuai versinya, atau perspektif yang memunculkan ketidaksetujuan salah satu pihak. Jadi, mohon jangan kaget kalau nanti kami berbeda pendapat – sebab itulah juga salah satu sisi menarik hubungan kami dulu, kalau kau mau tau hehehe.

Boleh memuji. Tentu saja, mengingat kami tampil anonim, maka memuji tidak dilarang. Termasuk bilang rindu dan sayang. Aiiiisshhh… kapan lagi, mumpung anonim ini.

Menulis apa saja. Bisa tentang masa sekarang, boleh mengenai masa lalu. Tema apa saja, apakah urusan di luar hidup kami, atau tentang hidup kami sendiri. Uniw boleh menulis tentang aku. Aku boleh menulis tentang Uniw.

Menulis bebas. Boleh panjang, boleh pendek. Bisa straight, bisa naratif mendayu-dayu penuh metafora.

Apa lagi ya… hmmm, apa aja deh. Sebab memang kami boleh bikin apa saja di blog ini. Suka-suka kamilah hehehe….

Dan, satu yang terpenting sebenarnya. Kami, atau aku barangkali (karena ini kutulis tanpa konfirmasi kepada Uniw lebih dulu) ingin menegaskan bahwa hubungan kami ini benar-benar hubungan maya di blog ini saja.

Jadi percayalah ini bukan CLBK (cinta lama belum kelar), atau whatever you name it, bukan pula keisengan menjelang puber kedua, apalagi kami sama-sama punya keluarga yang, insyaallah bahagia, di kota yang saling berjauhan, dan tak samasekali berniat berselingkuh. Terutama selingkuh sama mantan. Kalau sama yang baru sih (seandainya ada…) emmmm, gimana ya… aku pikir-pikir dululah hahahaha

Iklan

From → Cerita Winu

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: