Skip to content

Mabuk Cinta pada Orang Mabuk

by pada 24 Mei 2013

Hahaha, ya, ini bukan permainan kata. Begitulah memang kejadiannya. Cintaku kepada Uniw, dulu, adalah cinta yang mabuk. Bukan saja karena pesona Uniw bikin aku mabuk, tapi karena aku menyatakan cinta kepadanya di saat dia sedang mabuk. Mabuk dalam pengertiannya yang paling harfiah.

Hari itu, ah… aku bahkan lupa tanggal dan bulannya, mungkin di pertengahan tahun 1997, lebih cepat atau lebih lambat dari itu, aku pertama kali berjumpa Uniw pada sebuah acara di mana kami berdua menghadirinya. Dia pakai setelan rok hitam panjang dan kemeja putih. Mirip pakaian pegawai magang di perkantoran, yang biasa tampil culun dengan badge bertuliskan trainee di dada.

Dari seorang teman akhirnya aku tahu dia memang pegawai baru di sebuah koran harian. Lebih tepatnya, seorang calon reporter baru. Ah, pantas kok kelihatan lugu. Tapi wajahnya manis. Rambutnya sebahu. Kulitnya kuning bersih. Perawakan mungil, masih unyu-unyu khas gadis umur awal dua puluhan tahun.

Jauh dari stereotype “jatuh cinta pada pandangan pertama”, aku lupa apakah perjumpaan kami untuk kali pertama itu memberi sebuah kesan. Buktinya sekarang pun aku bahkan lupa punya kesan apa mengenai pertemuan pertama itu hahaha. Aku juga lupa apakah di perjumpaan awal itu kami bertegur sapa, saling memperkenalkan diri, berjabat tangan, atau sekadar say hi.

Yang pasti lebih kurang satu atau dua bulan setelah itu, tentu saja setelah berjumpa lagi dengannya beberapa kali pada kesempatan yang berbeda, kami akhirnya dipertemukan pada sebuah pesta terbatas di sebuah klub malam, di kota lain yang berjarak 3 jam perjalanan darat dari kota tempat kami tinggal. Aku bersama teman-temanku, Uniw bersama teman-temannya. Lalu bertemu begitu saja di klub malam itu.

Karena dari kelompok yang berbeda, meskipun saling mengenal, kami sibuk dengan keriaan masing-masing. Sampai pesta berlanjut dan entah bagaimana pada saat bubaran aku terdampar di dalam mobil bersama kelompoknya Uniw. Aku sungguh lupa kenapa waktu itu bisa terpisah dari kelompokku hahaha

Tahun-tahun akhir 90-an itu boleh dibilang masa booming hiburan malam, dengan gempita house music dan pil ekstasi. Sehingga aku tak kaget ketika tau Uniw bersama kelompoknya sengaja keliling kota dengan musik berdentum-dentum di dalam mobil, karena mereka masih “on” sedangkan klub malam sudah bubaran. Aku sendiri termasuk “cowok lugu” yang tak berani menenggak ekstasi. Tidak berani minum alkohol. Alim sekali hehehe… Eh, ini beneran. Tanya sendiri kepada Uniw bila kau tak percaya.

Maka aku jadi satu-satunya orang waras di dalam mobil itu. Ah, mungkin dua dengan yang mengemudi. Aku tak mengenal si pengemudi. Aku duduk di belakang, bersebalahan dengan Uniw, yang tampak asyik menikmati musik. Kepalanya geleng-geleng, mengangguk-angguk, badan bergoyang kiri-kanan… Hahaha, tripping… ya itulah yang disebut tripping itu.

Dalam keadaan sambil tripping itulah, aku melihat Uniw menangis. Lalu semua terjadi begitu saja. Aku memeluknya. Dia menyandarkan kepala di bahuku. Lalu aku berbisik di telinganya, mengatakan bahwa aku suka sama dia. Dan Uniw menjawab cepat, mungkin dengan setengah meracau, jawaban dari mulut orang yang tak sepenuhnya sadar karena sedang dipengaruhi ekstasi: “iya… tolong bimbing aku ya Winu…”

Entahlah apa yang membuat aku suka. Jelas-jelas orangnya sedang mabuk. Malah ditembak diajak jadian. Entah apakah dia menjawab dari hatinya. Yang pasti sejak saat itu kami berdua dekat. Mulai sering jalan berdua, dan akhirnya pacaran.

Iklan

From → Cerita Winu

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: