Skip to content

Bukan Ini Kisahnya

by pada 19 Mei 2013

Sebelum kumulai babak per babak kisahku, ada baiknya kubuka sedikit siapa aku. Aku yang dalam penokohan di blog ini disebut uniw, bukanlah penulis sohor laiknya Ayu Utami yang sangat dikagumi mantanku. Aku juga merasa tak dilahirkan dengan karunia terdahsyat sebagai penutur kisah. Aku hanya sangat menghormati misteri kehidupan sehari-hari yang sangat lazim. Yang sangat mendorong hasratku untuk mengisahkannya, meski kadang akan sangat emosional. Jadi bukan sebatas dorongan ingin menjadi penulis yang diakui.

Mungkin percikan beberapa kisah akan saling mendukung bahkan saling membantah dalam “perkawinan” kisah di blog ini. Semua kisah akan keluar dari masa diriku yang sekarang, saat aku benar-benar merasa menjadi wanita yang sesungguhnya. Saat aku mengidamkan menjadi sosok perempuan yang akan diidolakan  anak-anakku kelak. Saat aku ingin menyerahkan seluruh hidupku untuk keluarga tercintaku. Bukan saat aku masih menjadi ABG (anak baru gedhe) labil, bukan saat dalam kondisi aku terjun bebas dimana tiba-tiba menjadi ibu empat orang anak yang tak kulahirkan. Bukan pula saat aku masih janda labil dulu. Namun tak pula kuanggap diriku ini seorang Dewi (dari sisi seorang istri yang penuh pengabdian dan keikhlasan).

Semua terlahir dari kondisiku yang normal sekarang ini.  Meski sejumput kisah diantaranya akan terinspirasi dari masa itu, masa-masa lajangku yang kadang kuanggap kurang biasa atau mungkin sangat biasa dari sudut pandang orang lain. Aku yakin di tiap tepi akan selalu ada sesuatu yang lain yang menyentuh.  Ada kecewa, ada bahagia, ada nestapa, ada penghianatan, ada pemberontakan, ada perjuangan yang semua itu kuanggap sejarah hidup. Kini perlahan-lahan sejarah itu akan kulukis agar tak pudar dan menghilang begitu saja. Bukankah yang namanya sejarah selalu diceritakan? Kalimat muluknya, aku ingin menciptakan dunia baru di blog ini.

Seperti halnya perjalanan hidupku yang penuh liku, proses pembelajaran diri menjadi wanita yang terus tumbuh baik secara fisik dan psikis pun sangat penuh warna. Mungkin serumit rintangan proses penuangan kisahku ini. Karena saat menulis pengantar inipun aku sambil memangku anak bungsuku yang terus merengek dan merengek jika melihat bundanya mulai asyik dengan lap top. Sebagai ibu rumah tangga sekaligus wanita pekerja tanpa asisten di rumah, bisa dibayangkan bagaimana ribetnya. Apalagi dua buah hatiku saat ini masih kecil-kecil, menyisihkan sedikit waktu untuk menulis  sangatlah mahal bagiku. Mungkin sedikit lebih mudah jika kutulis di kantor saja, namun tetap saja lebih nyaman kutulis di rumahku sendiri. Aku bisa sambil mencuci baju dan menyuapi anak-anakku.

Intinya, dalam kesesatan dan pencerahan jiwa, banyak pembelajaran moralitas yang akhirnya kureguk. Tak ada sepenggal kisahpun yang kusesali. Semua kisah kunikmati dan kujalani seperti air mengalir. Klise sekali bukan? Tapi ya memang begitu, ini jalanku, ini hidupku dan inilah kisahku. ** uniw

Iklan

From → Cerita Uniw

One Comment
  1. winu permalink

    “Tak ada sepenggal kisahpun yang kusesali..” walah, berarti kamu ya nggak menyesal ya nggak jadi nikah sama aku? hehehe…

    Ayo Uniw, kau bilang bukan ini kisahnya… lalu mana kisahnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: