Skip to content

Orang Spesial Itu Bukan Winu

by

Tumben dingin sekali malam ini. Tanpa baju hangat, pasti tubuh tipisku ini akan menggigil. Tapi tak apa, nikmati saja, syukuri dan jalani. Toh dinginnya malam justru

menghadirkan kesejukan tak terkira, hingga kerelung kalbu. Kesejukan yang sangat mahal untuk bisa kunikmati, mengingat kota tempat tinggalku memiliki kecenderungan

beriklim panas. Sejuk ini benar-benar membuat otak dan hatiku malam ini lebih dingin. Hingga tergoda untuk kembali menoreh kisah di blog yang lumayan lama

kutinggalkan dan tak kutengok-tengok karena kesibukan ini. Aaah, bahkan untuk masukpun lupa passwordnya, terpaksa harus tanya Winu dulu.

Makin tergerak lagi hasratku setelah mendapat pertanyaan dari seseorang lewat jejaring social WhatsApp (WA). “Kita ke Bromo dulu bulan apa ya?”. Hanya sebuah

pertanyaan lewat sih melalui akun di jaringan pribadiku. Bahkan mungkin yang bertanya pun sudah lupa dan tak menganggap apa-apa (heheheheee). Aku aja yang kecentilan

hingga diam-diam hati dan pikiran ini kembali teraduk-aduk mengenang masa itu. Masa-masa saat kureguk dunia lajangku, di sebuah kota yang berhawa sejuk dan dingin.

Maaf ya Winu, kali ini bukan tentang dirimu, aku ingin flashback ke masa remajaku sebelum mengenalmu dulu. Karena ada seseorang yang sangat special dihatiku saat itu,

sangat kupuja dan kudambakan (ooowhh…lebaynya).

Saai ini, keakrabanku terhadap sosok yang akan kukisahkan ini, juga sebatas terjalin melalui media social tak ubahnya jalinan hubunganku dengan Winu. Secara kami jauh

terpisah, berada di beda pulau. Berawal sebatas menyapa, lama kelamaan lebih sering dan kembali akrab karena kami punya group jebolan teman-teman satu kampus saat

menempuh pendidikan di Malang dulu. Lumayan, lewat group itu pula kami bisa saling berkelakar melepas penat, mengurangi stress atas rutinitas yang hari-hari kujalani.
Aaahh…selalu tak jauh-jauh dari cinta temanya. Tapi mau bagaimana, pengalaman hadirnya cinta dihati seseoranglah yang membuat hidup lebih berwarna warni dan dramatis.

Seperti cintaku pada sosok pria yang satu ini. Sebut saja Disa. Karena tak mungkin kusebut nama aslinya.

Jika dibilang kisahku ini indah untukku, mungkin tidak. Karena pengalaman cintaku kali ini lebih banyak sakitnya. Bagaimana tidak, wong yang kucintai pacar sahabatku

yang sesungguhnya juga sudah punya pacar (calon). Nah, makin rumit kan? Iya, memang sedikit rumit dan gila. Tapi begitulah adanya. Disitulah letak dramatisnya, meski

menyakitkan namun tetap berarti bagiku. Sebuah pengalaman cinta yang sangat membekas hingga sekarang. Bahkan mungkin masih tersisa, entahlah.
Sebenarnya bukan tanpa alasan bila kubilang “masih tersisa”. Sebab meski telah tertindis dengan kisah-kisah cinta lain dalam hidupku yang lebih “ekstrim”, nyatanya

sampai sekarang masih juga ada rasa yang berbeda, meski sempat terlupakan. Jelas rasa ini berbeda dengan rasaku terhadap Winu. Dari caraku mencintai pun jauh berbeda.

Sekali lagi maafkan aku Winu. Bukan maksudku ingin membanding-bandingkan dirimu dan dirinya, tapi waktulah yang menciptakan perbedaan itu. Anggap saja ini cinta gadis

lugu, pemimpi, kepada sosok pria yang tak mungkin terjangkau olehnya. Menyedihkan ya? Sekali lagi, begitulah adanya.

Jika ada yang bilang cinta datang dengan sendirinya, tentu aku sangat tak setuju. Tak ada asap jika tak ada api. Ya, begitulah timbulnya rasa cintaku kepada Disa.

Terlalu banyak sifat Disa yang membuatku kagum dan membutakan hatiku saat itu. Sebagai sosok yang lebih dewasa dan matang secara usia, boleh dibilang Disa selalu lebih

unggul dalam hal pola pikir, diantara puluhan teman-teman mahasiswa yang jadi teman sekelasku saat itu. Bahkan kedewasaannya membuatnya jadi tempat “ngesampah” atau

curhat teman-teman termasuk aku. Dia juga selalu melahap materi kuliah yang bikin otakku puyeng. Sejumlah kelebihan itulah yang meningkatkan daya tarikku terhadapnya.

Bukan omong kosong, terbukti dia jadi programmer yang handal sekarang. Selamat ya Disa! Sukses selalu untukmu!

Begini kisahnya

Pertama Dipeluk Lelaki

Kampus kecil yang terletak di Jalan Jakarta, Malang Jawa Timur siang itu tampak sepi (sekarang kampusnya sudah pindah). Mungkin karena mahasiswa tingkat I sampai III

usai melaksanakan ujian tugas proyek (TP), eeh bukan libur pasca ujian, entah libur panjang apa waktu itu tepatnya sudah lupa. Memang tak banyak kelas yang disediakan

lembaga pendidikan yang mencetak Yunior System Analist itu. Satu angkatan hanya menyediakan satu kelas yang berisi maksimal 20 mahasiswa (seingatku, karena sudah

sangat lama, sekitar pertengahan tahun 1995 an).

Bangku panjang dari kayu yang dijejer di teras kampus hanya diduduki kami berempat dari kelas II D. Ada Wida, Disa, Wati, Erick dan aku sendiri. Sebenarnya memang

sudah tak ada jam kuliah lagi, tapi kami dari kelas II D sedang punya gawe, merencanakan mengisi waktu libur kuliah dengan camping ke gunung Bromo, Malang, Jawa Timur.

“Pokoknya aku harus ikut,” celetuk Disa yang kuingat saat itu dihadapan teman-teman lain. Aku masih belum terlalu mengenal sosoknya dan belum tertarik. Yang kutahu dia

adalah teman yang ngocol dan asik candanya.

Meski berasal dari ragam suku, aku bersyukur mendapat teman-teman satu kelas yang sangat kompak dan setia kawan. Ada Wati dari Kaltim bersuku Banjar yang sangat dewasa

dan care terhadapku, aku sering numpang tidur di asrama Kaltim saat dirundung sepi karena teman-teman kos pada mudik. Ada Disa yang saat itu juga masih tercatat

sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang yang otaknya paling brilliant dan sering membantuku menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Ada Wida, gadis

Bali yang sebenarnya keturunan Jawa yang sangat peduli dengan masalah pribadiku, dan Erick cowok yang sedikit usil tapi baik, dan masih banyak teman-teman lain yang

saling dukung dalam suka duka.

Atas kesepakatan teman-teman satu kelas, akhirnya kami menetapkan hari dan tanggal yang tepatnya aku lupa. Yang jelas saat itu aku hampir tak bisa ikut, karena

dilarang oleh orang tua. Tapi bukan aku kalau tak berani ambil tindakan nekat. Dengan caraku, akhirnya aku bisa ikut bersama rombongan ke Bromo.
Menikmati hawa dingin pengunungan sungguh menjadi hal baru buatku. Dan saat itulah pertama dan terakhir kalinya aku benar-benar menjamah yang namanya gunung. Kereeen

dan tak terlupakan. Tak terlupakan lagi kisah dibalik keindahan gunung Bromo itu.

Malam itu, saat bulan bersinar terang meski bukan purnama, dan bintang-bintang berebut memancarkan sinarnya, kami tengah asyik bercengkerama dalam sebuah tenda yang

kami dirikan di ground camping, tak jauh dari kompleks penginapan gunung Bromo. Tentu dengan tubuh kami yang menggigil, meski sudah berlapis-lapis baju hangat

sekalipun. Celakanya, toilet berada cukup jauh dari tempat kami berkemah, mungkin lebih dari setengah kilo meter. Bayangkan jika saat itu ada yang kepengen buang air

kecil. Celakanya rasa itu datang padaku.

“Kak, pengen pipis, tolong temenin dong,” pintaku memelas pada Wati yang biasa kami sapa Kak Wati.

“Wah…ga berani minta tolong laki-laki aja,” celetuknya.

“Yuk kuantar…!” tiba-tiba Disa menawarkan jasa.

Kamipun langsung memacu langkah menuju ke toilet umum dengan menyusuri perbukitan yang sangat gelap. Tak hanya hawa dingin yang mencekam malam itu, tapi juga suasana

sepi benar-benar membuatku sangat tegang dan ketakutan. Seolah paham dengan kondisi itu, Disa pun memeluk bahuku sangat erat dengan tangan kanannya. Demikian pula

denganku, kulingkarkan tangan kiriku kepinggangnya seerat mungkin. Mencekam, hanya rasa itu yang terlintas dibenakku saat itu. Hingga sampai ke toilet yang kami tuju,

hanya suara jangkrik dan binatang-binatang malam lainnya yang mengiringi perjalanan kami yang terasa sangat lama. Benar-benar kami saling membisu tanpa suara.

”Alhamdulillah…untung tak ada apa-apa,” syukurku dalam hati saat kembali dan mulai melihat tenda kami dari kejauhan. Rasa takutpun sirna, berganti dengan rasa lain.

Mengingat Disa masih memelukku, tiba-tiba ada desiran aneh dihatiku.

“Kita ke atas bukit dulu yuk!” ajak Disa saat kami sudah berada di depan tenda. Tak pikir panjang akupun mengiyakan ajakan itu. Dengan perlahan ia menarik tanganku dan

membimbingku mencapai bukit yang sedikit lebih tinggi, tepat di atas dimana kami mendirikan tenda. Sebenarnya ada dua tenda yang kami dirikan, satu untuk laki-laki dan

satu lagi untuk perempuan. Tapi malam itu teman-teman lebih memilih bergabung di satu tenda agar tetap terjaga.

“Nah, duduk disini enakkan, lihat itu, indah sekali langitnya,” ucap Disa sambil menunjuk ke langit dan menarikku untuk duduk didekatnya. Tangannya pun dilingkarkan ke

bahuku hingga aku larut dalam dekapnya. Bukannya langit malam itu yang kunikmati, tapi debaran jantung yang begitu kencang yang tiba-tiba kurasakan. Diusiaku yang baru

menginjak 18 tahun, benar-benar untuk pertamakalinya secara fisik aku berada paling dekat dengan sesosok pria. “OMG, entah rasa apa ini namanya,” begitu pikirku saat

itu.

Tah hanya itu, wajah kamipun sangat dekat. Sambil berbisik Disa mendekatkan bibirnya ke telingaku. Dan entah apa yang dibisikkannya saat itupun aku tak ingat. Mungkin

karena aku lebih sibuk dengan rasa gugup, karena debaran-debaran yang menurutku sangat aneh kurasakan. Mungkin seandainya saat itu aku sadar, itulah yang namanya

“terjerembab dalam suasana romantis” (alay ya,heheee ). Yaaah, keromantisan yang tak pernah kusadari. Keromantisan yang dengan susah payah kuhindari dan kutolak karena

kuanggap sangat tabu. Antara takut dosa dan penasaran untuk ingin lebih menikmati berkecamuk jadi satu. Benar-benar aku sibuk dengan rasaku sendiri, hingga tak tau

lagi apa saja yang sudah diucapkan Disa saat itu.

Tak ingin berlama-lama dihinggapi rasa gugup, akhirnya kuputuskan untuk masuk ke tenda. Meski belum sempat kunikmati indahnya langit malam itu. Fatalnya, rasa gugup

membuatku tak konsentrasi saat beranjak pergi dan melepaskan diri dari dekapan Disa. Akupun jatuh, tergelincir dan berguling-guling sampai pas mendarat di depan tenda.

“Ups, untung teman lain tak ada yang dengar, mungkin ini hukuman dari dosa tadi,” begitu hatiku bicara saat itu. Dan entah bagaimana muka Disa saat melihat kejadian

itu. Aku tak peduli, yang kuingin saat itu hanya membebaskan diri dari rasa aneh yang merasukiku tanpa ingin melihat wajahnya lagi.**

Cinta Bersemi Diakhir Pendakian

Pukul 03.00 Wib dinihari, kami sudah bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Tak satupun dari kami ingin kehilangan moment yang sangat dinanti para pendaki, indahnya

menikmati sun rise dari puncak gunung Bromo. Rasa dingin yang berlipat-lipat terkalahkan oleh semangat untuk mencapai puncak. Ground camping pun kami tinggalkan. Erick

yang memang sudah lebih berpengalaman mendaki gunung memimpin kami.

Perjalanan ke puncak dengan melewati lautan padang pasir sepanjang kurang lebih 12 Km kami tempuh dengan berjalan kaki, terasa berat bagiku. Lumayan ngos-ngosan untuk

pendaki pemula seperti diriku. Terlebih saat melewati anak tangga demi anak tangga untuk mencapai sisi kawah yang masih aktif itu. Tapi rasa lelah itu seakan terbayar

dengan indahnya panorama yang kami nikmati. Terlebih saat matahari mulai muncul. Di dasar kawah terlihat warna keemasan belerang dan kepulan asap putih yang menjulang

ke atas, menyebarkan bau belerang. Sungguh panorama yang menakjubkan, Subhanallah.

Meski belum terlalu puas berada di atas puncak Bromo, kami memutuskan untuk segera turun. Karena kami tak ingin terpanggang teriknya matahari saat melewati padang

pasir. Untuk menuruni puncak, kami kembali menuruni anak tangga yang begitu panjang dan cukup melelahkan bersama wisatawan lainnya. Setelah sampai di bawah, banyak

penduduk lokal yang siap dengan kudanya untuk disewakan. Tak pikir panjang, aku memilih menyewa kuda untuk mencapai ground camping. Tak tahan rasanya membayangkan

kembali berjalan kaki menyeberangi lautan padang pasir itu. Akupun memisahkan diri dari rombongan dan dahulu memacu kuda. Tak terlalu laju sih, karena ada pawang kuda

yang menyertaiku.

Benar saja, tak sampai 15 menit aku berhasil mencapai tenda masih dengan kuda yang kusewa. Betapa kagetnya saat kulihat sosok Disa sudah berdiri di depan tenda. “Loh,

apa dia tadi tak ikut mendaki?” pikirku. Aku yang masih canggung dengan peristiwa semalam tak ingin ambil pusing dengan itu semua. Akupun turun dari kuda dan membayar

paman pemilik kuda sewaan itu.

Siang itu, selepas melakukan pendakian, kami menghabiskan waktu dengan bercanda sengocol ngocolnya selayaknya anak muda yang asyik menikmati kebebasan. Sesekali

petikan gitar Huget, mengiringi kami bernyanyi. Lagi-lagi polah tingkah teman-teman mengocok perut kami. Tak terkecuali Disa. Secara diam-diam aku sering memperhatikan

gerak geriknya tanpa ia sadari. Entahlah, rasa ini tak sama dengan sebelum terjadi peristiwa malam itu, malam disaat aku diajaknya melihat langit dan terjatuh.
Perasaan aneh itu semakin bergelayut direlung hatiku saat kami harus mengakhiri liburan dan berpisah pulang ke rumah-masing-masing. Ada rasa yang hilang dan seakan

tertinggal disebuah tempat yang jauh. Serasa tak ingin berlama-lama libur dan ingin sesegera mungkin kuliah lagi, bertemu dengan teman-teman, bertemu dengan Disa dan

kengocolannya. Aaah, itulah awal mula rasaku muncul terhadap Disa. Jatuh cinta, yah aku telah jatuh cinta terhadap pria yang sama sekali tak pernah punya rasa apa-apa

terhadapku.**

Sakitnya Sakit

Waktu libur telah usai. Saatnya aku kembali ke Malang. Kembali bertemu dangan teman-teman yang kurindukan, termasuk Disa. Disa yang supel dan gemar “menggoda” teman

perempuan sekaligus menolong tak membuatnya sulit untuk bisa dekat dengan siapapun. Bahkan, aku dan Wida (teman yang akhirnya menjadi sahabatku) mempunyai julukan

khusus untuknya. Kami memanggilnya “Om”, sebenarnya lebih tepat jika disebut sebuah panggilan penghormatan. Yah…kami tambah akrab satu sama lain. Peristiwa di Bromo

itu perlahan-lahan mulai kulupakan.

Selama menghabiskan waktu mengikuti perkuliahan hingga tamat, selama itu pula aku harus menyimpan rapat-rapat rasa cintaku terhadap Disa. Aku harus terima kenyataan

bahwa Disa yang sesungguhnya sudah bertunangan itu lebih mencintai sahabatku Wida. Anehnya, meski tahu bahwa dia berselingkuh dari tunangannya dan menjalin hubungan

dengan Wida, tak sedikitpun menyurutkan rasa cintaku terhadapnya. Jadi benar saja yang sering orang katakan, “bila cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat”

hahahahaaa….

Hari-hari sering kami habiskan bersama, kadang bertiga. Hari-hari itu pula aku harus menahan rasa sakit karena tak pernah dianggap ada. Sebatas teman dan sahabat,

begitulah Disa menganggapku. Berada dekat disisinya saja sudah membuatku senang. Naif memang, mempertahankan hubungan diatas rasa cemburu, tapi sekali lagi begitulah

adanya. Bukannya aku ingin menyakiti diri sendiri, dan bukannya aku ingin melihat seperti apa akhirnya, nothing to lose aja. Toh semua salahku sendiri jika didalam

hatiku selalu ada tangis yang tak terlihat oleh mereka. Mungkin jika saat itu sudah tercipta lagunya Pinkan Mambo “Kekasih Tak Dianggap”, aku akan sering

menyanyikannya.

Hingga setelah tamat dari lembaga pendidikan itu, berbekal nekad kuputuskan untuk merantau ke seberang pulau. Tempat yang lumayan jauh dari kampung halamanku. Aku

pergi meninggalkan kedua orang tua bersama rasa sakitku. Rasa sakit bertepuk sebelah tangan. Dengan harapan aku bisa menemukan duniaku yang baru dan melupakan Disa

selama-lamanya. Tentu saja tak hanya itu, aku juga ingin mengadu nasib mencari keberuntungan demi masa depanku. Dan di pulau itulah akhirnya benar-benar kutemukan

dunia baru, sahabat-sahabat baru, bahkan kekasih hati, dan itu Winu, meski akhirnya Winu juga bukan jodohku.**

Iklan

Orang Spesial Itu Bukan Winu

by

Tumben dingin sekali malam ini. Tanpa baju hangat, pasti tubuh tipisku ini akan menggigil. Tapi tak apa, nikmati saja, syukuri dan jalani. Toh dinginnya malam justru menghadirkan kesejukan tak terkira, hingga kerelung kalbu. Kesejukan yang sangat mahal untuk bisa kunikmati, mengingat kota tempat tinggalku memiliki kecenderungan beriklim panas. Sejuk ini benar-benar membuat otak dan hatiku malam ini lebih dingin. Hingga tergoda untuk kembali menoreh kisah di blog yang lumayan lama kutinggalkan dan tak kutengok-tengok karena kesibukan ini. Aaah, bahkan untuk masukpun lupa passwordnya, terpaksa harus tanya Winu dulu.
Makin tergerak lagi hasratku setelah mendapat pertanyaan dari seseorang lewat jejaring social WhatsApp (WA). “Kita ke Bromo dulu bulan apa ya?”. Hanya sebuah pertanyaan lewat sih melalui akun di jaringan pribadiku. Bahkan mungkin yang bertanya pun sudah lupa dan tak menganggap apa-apa (heheheheee). Aku aja yang kecentilan hingga diam-diam hati dan pikiran ini kembali teraduk-aduk mengenang masa itu. Masa-masa saat kureguk dunia lajangku, di sebuah kota yang berhawa sejuk dan dingin. Maaf ya Winu, kali ini bukan tentang dirimu, aku ingin flashback ke masa remajaku sebelum mengenalmu dulu. Karena ada seseorang yang sangat special dihatiku saat itu, sangat kupuja dan kudambakan (ooowhh…lebaynya).
Saai ini, keakrabanku terhadap sosok yang akan kukisahkan ini, juga sebatas terjalin melalui media social tak ubahnya jalinan hubunganku dengan Winu. Secara kami jauh terpisah, berada di beda pulau. Berawal sebatas menyapa, lama kelamaan lebih sering dan kembali akrab karena kami punya group jebolan teman-teman satu kampus saat menempuh pendidikan di Malang dulu. Lumayan, lewat group itu pula kami bisa saling berkelakar melepas penat, mengurangi stress atas rutinitas yang hari-hari kujalani.
Aaahh…selalu tak jauh-jauh dari cinta temanya. Tapi mau bagaimana, pengalaman hadirnya cinta dihati seseoranglah yang membuat hidup lebih berwarna warni dan dramatis. Seperti cintaku pada sosok pria yang satu ini. Sebut saja Disa. Karena tak mungkin kusebut nama aslinya.
Jika dibilang kisahku ini indah untukku, mungkin tidak. Karena pengalaman cintaku kali ini lebih banyak sakitnya. Bagaimana tidak, wong yang kucintai pacar sahabatku yang sesungguhnya juga sudah punya pacar (calon). Nah, makin rumit kan? Iya, memang sedikit rumit dan gila. Tapi begitulah adanya. Disitulah letak dramatisnya, meski menyakitkan namun tetap berarti bagiku. Sebuah pengalaman cinta yang sangat membekas hingga sekarang. Bahkan mungkin masih tersisa, entahlah.
Sebenarnya bukan tanpa alasan bila kubilang “masih tersisa”. Sebab meski telah tertindis dengan kisah-kisah cinta lain dalam hidupku yang lebih “ekstrim”, nyatanya sampai sekarang masih juga ada rasa yang berbeda, meski sempat terlupakan. Jelas rasa ini berbeda dengan rasaku terhadap Winu. Dari caraku mencintai pun jauh berbeda. Sekali lagi maafkan aku Winu. Bukan maksudku ingin membanding-bandingkan dirimu dan dirinya, tapi waktulah yang menciptakan perbedaan itu. Anggap saja ini cinta gadis lugu, pemimpi, kepada sosok pria yang tak mungkin terjangkau olehnya. Menyedihkan ya? Sekali lagi, begitulah adanya.
Jika ada yang bilang cinta datang dengan sendirinya, tentu aku sangat tak setuju. Tak ada asap jika tak ada api. Ya, begitulah timbulnya rasa cintaku kepada Disa. Terlalu banyak sifat Disa yang membuatku kagum dan membutakan hatiku saat itu. Sebagai sosok yang lebih dewasa dan matang secara usia, boleh dibilang Disa selalu lebih unggul dalam hal pola pikir, diantara puluhan teman-teman mahasiswa yang jadi teman sekelasku saat itu. Bahkan kedewasaannya membuatnya jadi tempat “ngesampah” atau curhat teman-teman termasuk aku. Dia juga selalu melahap materi kuliah yang bikin otakku puyeng. Sejumlah kelebihan itulah yang meningkatkan daya tarikku terhadapnya. Bukan omong kosong, terbukti dia jadi programmer yang handal sekarang. Selamat ya Disa! Sukses selalu untukmu!

Begini kisahnya
Pertama Dipeluk Lelaki
Kampus kecil yang terletak di Jalan Jakarta, Malang Jawa Timur siang itu tampak sepi (sekarang kampusnya sudah pindah). Mungkin karena mahasiswa tingkat I sampai III usai melaksanakan ujian tugas proyek (TP), eeh bukan libur pasca ujian, entah libur panjang apa waktu itu tepatnya sudah lupa. Memang tak banyak kelas yang disediakan lembaga pendidikan yang mencetak Yunior System Analist itu. Satu angkatan hanya menyediakan satu kelas yang berisi maksimal 20 mahasiswa (seingatku, karena sudah sangat lama, sekitar pertengahan tahun 1995 an).
Bangku panjang dari kayu yang dijejer di teras kampus hanya diduduki kami berempat dari kelas II D. Ada Wida, Disa, Wati, Erick dan aku sendiri. Sebenarnya memang sudah tak ada jam kuliah lagi, tapi kami dari kelas II D sedang punya gawe, merencanakan mengisi waktu libur kuliah dengan camping ke gunung Bromo, Malang, Jawa Timur. “Pokoknya aku harus ikut,” celetuk Disa yang kuingat saat itu dihadapan teman-teman lain. Aku masih belum terlalu mengenal sosoknya dan belum tertarik. Yang kutahu dia adalah teman yang ngocol dan asik candanya.
Meski berasal dari ragam suku, aku bersyukur mendapat teman-teman satu kelas yang sangat kompak dan setia kawan. Ada Wati dari Kaltim bersuku Banjar yang sangat dewasa dan care terhadapku, aku sering numpang tidur di asrama Kaltim saat dirundung sepi karena teman-teman kos pada mudik. Ada Disa yang saat itu juga masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang yang otaknya paling brilliant dan sering membantuku menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Ada Wida, gadis Bali yang sebenarnya keturunan Jawa yang sangat peduli dengan masalah pribadiku, dan Erick cowok yang sedikit usil tapi baik, dan masih banyak teman-teman lain yang saling dukung dalam suka duka.
Atas kesepakatan teman-teman satu kelas, akhirnya kami menetapkan hari dan tanggal yang tepatnya aku lupa. Yang jelas saat itu aku hampir tak bisa ikut, karena dilarang oleh orang tua. Tapi bukan aku kalau tak berani ambil tindakan nekat. Dengan caraku, akhirnya aku bisa ikut bersama rombongan ke Bromo.
Menikmati hawa dingin pengunungan sungguh menjadi hal baru buatku. Dan saat itulah pertama dan terakhir kalinya aku benar-benar menjamah yang namanya gunung. Kereeen dan tak terlupakan. Tak terlupakan lagi kisah dibalik keindahan gunung Bromo itu.
Malam itu, saat bulan bersinar terang meski bukan purnama, dan bintang-bintang berebut memancarkan sinarnya, kami tengah asyik bercengkerama dalam sebuah tenda yang kami dirikan di ground camping, tak jauh dari kompleks penginapan gunung Bromo. Tentu dengan tubuh kami yang menggigil, meski sudah berlapis-lapis baju hangat sekalipun. Celakanya, toilet berada cukup jauh dari tempat kami berkemah, mungkin lebih dari setengah kilo meter. Bayangkan jika saat itu ada yang kepengen buang air kecil. Celakanya rasa itu datang padaku.
“Kak, pengen pipis, tolong temenin dong,” pintaku memelas pada Wati yang biasa kami sapa Kak Wati.
“Wah…ga berani minta tolong laki-laki aja,” celetuknya.
“Yuk kuantar…!” tiba-tiba Disa menawarkan jasa.
Kamipun langsung memacu langkah menuju ke toilet umum dengan menyusuri perbukitan yang sangat gelap. Tak hanya hawa dingin yang mencekam malam itu, tapi juga suasana sepi benar-benar membuatku sangat tegang dan ketakutan. Seolah paham dengan kondisi itu, Disa pun memeluk bahuku sangat erat dengan tangan kanannya. Demikian pula denganku, kulingkarkan tangan kiriku kepinggangnya seerat mungkin. Mencekam, hanya rasa itu yang terlintas dibenakku saat itu. Hingga sampai ke toilet yang kami tuju, hanya suara jangkrik dan binatang-binatang malam lainnya yang mengiringi perjalanan kami yang terasa sangat lama. Benar-benar kami saling membisu tanpa suara.
”Alhamdulillah…untung tak ada apa-apa,” syukurku dalam hati saat kembali dan mulai melihat tenda kami dari kejauhan. Rasa takutpun sirna, berganti dengan rasa lain. Mengingat Disa masih memelukku, tiba-tiba ada desiran aneh dihatiku.
“Kita ke atas bukit dulu yuk!” ajak Disa saat kami sudah berada di depan tenda. Tak pikir panjang akupun mengiyakan ajakan itu. Dengan perlahan ia menarik tanganku dan membimbingku mencapai bukit yang sedikit lebih tinggi, tepat di atas dimana kami mendirikan tenda. Sebenarnya ada dua tenda yang kami dirikan, satu untuk laki-laki dan satu lagi untuk perempuan. Tapi malam itu teman-teman lebih memilih bergabung di satu tenda agar tetap terjaga.
“Nah, duduk disini enakkan, lihat itu, indah sekali langitnya,” ucap Disa sambil menunjuk ke langit dan menarikku untuk duduk didekatnya. Tangannya pun dilingkarkan ke bahuku hingga aku larut dalam dekapnya. Bukannya langit malam itu yang kunikmati, tapi debaran jantung yang begitu kencang yang tiba-tiba kurasakan. Diusiaku yang baru menginjak 18 tahun, benar-benar untuk pertamakalinya secara fisik aku berada paling dekat dengan sesosok pria. “OMG, entah rasa apa ini namanya,” begitu pikirku saat itu.
Tah hanya itu, wajah kamipun sangat dekat. Sambil berbisik Disa mendekatkan bibirnya ke telingaku. Dan entah apa yang dibisikkannya saat itupun aku tak ingat. Mungkin karena aku lebih sibuk dengan rasa gugup, karena debaran-debaran yang menurutku sangat aneh kurasakan. Mungkin seandainya saat itu aku sadar, itulah yang namanya “terjerembab dalam suasana romantis” (alay ya,heheee ). Yaaah, keromantisan yang tak pernah kusadari. Keromantisan yang dengan susah payah kuhindari dan kutolak karena kuanggap sangat tabu. Antara takut dosa dan penasaran untuk ingin lebih menikmati berkecamuk jadi satu. Benar-benar aku sibuk dengan rasaku sendiri, hingga tak tau lagi apa saja yang sudah diucapkan Disa saat itu.
Tak ingin berlama-lama dihinggapi rasa gugup, akhirnya kuputuskan untuk masuk ke tenda. Meski belum sempat kunikmati indahnya langit malam itu. Fatalnya, rasa gugup membuatku tak konsentrasi saat beranjak pergi dan melepaskan diri dari dekapan Disa. Akupun jatuh, tergelincir dan berguling-guling sampai pas mendarat di depan tenda. “Ups, untung teman lain tak ada yang dengar, mungkin ini hukuman dari dosa tadi,” begitu hatiku bicara saat itu. Dan entah bagaimana muka Disa saat melihat kejadian itu. Aku tak peduli, yang kuingin saat itu hanya membebaskan diri dari rasa aneh yang merasukiku tanpa ingin melihat wajahnya lagi.**

Cinta Bersemi Diakhir Pendakian
Pukul 03.00 Wib dinihari, kami sudah bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Tak satupun dari kami ingin kehilangan moment yang sangat dinanti para pendaki, indahnya menikmati sun rise dari puncak gunung Bromo. Rasa dingin yang berlipat-lipat terkalahkan oleh semangat untuk mencapai puncak. Ground camping pun kami tinggalkan. Erick yang memang sudah lebih berpengalaman mendaki gunung memimpin kami.
Perjalanan ke puncak dengan melewati lautan padang pasir sepanjang kurang lebih 12 Km kami tempuh dengan berjalan kaki, terasa berat bagiku. Lumayan ngos-ngosan untuk pendaki pemula seperti diriku. Terlebih saat melewati anak tangga demi anak tangga untuk mencapai sisi kawah yang masih aktif itu. Tapi rasa lelah itu seakan terbayar dengan indahnya panorama yang kami nikmati. Terlebih saat matahari mulai muncul. Di dasar kawah terlihat warna keemasan belerang dan kepulan asap putih yang menjulang ke atas, menyebarkan bau belerang. Sungguh panorama yang menakjubkan, Subhanallah.
Meski belum terlalu puas berada di atas puncak Bromo, kami memutuskan untuk segera turun. Karena kami tak ingin terpanggang teriknya matahari saat melewati padang pasir. Untuk menuruni puncak, kami kembali menuruni anak tangga yang begitu panjang dan cukup melelahkan bersama wisatawan lainnya. Setelah sampai di bawah, banyak penduduk lokal yang siap dengan kudanya untuk disewakan. Tak pikir panjang, aku memilih menyewa kuda untuk mencapai ground camping. Tak tahan rasanya membayangkan kembali berjalan kaki menyeberangi lautan padang pasir itu. Akupun memisahkan diri dari rombongan dan dahulu memacu kuda. Tak terlalu laju sih, karena ada pawang kuda yang menyertaiku.
Benar saja, tak sampai 15 menit aku berhasil mencapai tenda masih dengan kuda yang kusewa. Betapa kagetnya saat kulihat sosok Disa sudah berdiri di depan tenda. “Loh, apa dia tadi tak ikut mendaki?” pikirku. Aku yang masih canggung dengan peristiwa semalam tak ingin ambil pusing dengan itu semua. Akupun turun dari kuda dan membayar paman pemilik kuda sewaan itu.
Siang itu, selepas melakukan pendakian, kami menghabiskan waktu dengan bercanda sengocol ngocolnya selayaknya anak muda yang asyik menikmati kebebasan. Sesekali petikan gitar Huget, mengiringi kami bernyanyi. Lagi-lagi polah tingkah teman-teman mengocok perut kami. Tak terkecuali Disa. Secara diam-diam aku sering memperhatikan gerak geriknya tanpa ia sadari. Entahlah, rasa ini tak sama dengan sebelum terjadi peristiwa malam itu, malam disaat aku diajaknya melihat langit dan terjatuh.
Perasaan aneh itu semakin bergelayut direlung hatiku saat kami harus mengakhiri liburan dan berpisah pulang ke rumah-masing-masing. Ada rasa yang hilang dan seakan tertinggal disebuah tempat yang jauh. Serasa tak ingin berlama-lama libur dan ingin sesegera mungkin kuliah lagi, bertemu dengan teman-teman, bertemu dengan Disa dan kengocolannya. Aaah, itulah awal mula rasaku muncul terhadap Disa. Jatuh cinta, yah aku telah jatuh cinta terhadap pria yang sama sekali tak pernah punya rasa apa-apa terhadapku.**

Sakitnya Sakit
Waktu libur telah usai. Saatnya aku kembali ke Malang. Kembali bertemu dangan teman-teman yang kurindukan, termasuk Disa. Disa yang supel dan gemar “menggoda” teman perempuan sekaligus menolong tak membuatnya sulit untuk bisa dekat dengan siapapun. Bahkan, aku dan Wida (teman yang akhirnya menjadi sahabatku) mempunyai julukan khusus untuknya. Kami memanggilnya “Om”, sebenarnya lebih tepat jika disebut sebuah panggilan penghormatan. Yah…kami tambah akrab satu sama lain. Peristiwa di Bromo itu perlahan-lahan mulai kulupakan.
Selama menghabiskan waktu mengikuti perkuliahan hingga tamat, selama itu pula aku harus menyimpan rapat-rapat rasa cintaku terhadap Disa. Aku harus terima kenyataan bahwa Disa yang sesungguhnya sudah bertunangan itu lebih mencintai sahabatku Wida. Anehnya, meski tahu bahwa dia berselingkuh dari tunangannya dan menjalin hubungan dengan Wida, tak sedikitpun menyurutkan rasa cintaku terhadapnya. Jadi benar saja yang sering orang katakan, “bila cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat” hahahahaaa….
Hari-hari sering kami habiskan bersama, kadang bertiga. Hari-hari itu pula aku harus menahan rasa sakit karena tak pernah dianggap ada. Sebatas teman dan sahabat, begitulah Disa menganggapku. Berada dekat disisinya saja sudah membuatku senang. Naif memang, mempertahankan hubungan diatas rasa cemburu, tapi sekali lagi begitulah adanya. Bukannya aku ingin menyakiti diri sendiri, dan bukannya aku ingin melihat seperti apa akhirnya, nothing to lose aja. Toh semua salahku sendiri jika didalam hatiku selalu ada tangis yang tak terlihat oleh mereka. Mungkin jika saat itu sudah tercipta lagunya Pinkan Mambo “Kekasih Tak Dianggap”, aku akan sering menyanyikannya.
Hingga setelah tamat dari lembaga pendidikan itu, berbekal nekad kuputuskan untuk merantau ke seberang pulau. Tempat yang lumayan jauh dari kampung halamanku. Aku pergi meninggalkan kedua orang tua bersama rasa sakitku. Rasa sakit bertepuk sebelah tangan. Dengan harapan aku bisa menemukan duniaku yang baru dan melupakan Disa selama-lamanya. Tentu saja tak hanya itu, aku juga ingin mengadu nasib mencari keberuntungan demi masa depanku. Dan di pulau itulah akhirnya benar-benar kutemukan dunia baru, sahabat-sahabat baru, bahkan kekasih hati, dan itu Winu, meski akhirnya Winu juga bukan jodohku.**

Pendosa Memaknai Cinta

by

Ini juga masih belum menginjak kisah. Sebab ada rasa mengganjal bila tak kuutarakan perspektifku yang satu ini. Meski sedikit basi namun tetap kuanggap perlu. Yah…tentang cinta, bagaimana aku memaknai cinta dulu dan kini. Tentang cinta di masa lajangku dan cinta sejati yang kumiliki. Sebab pandanganku ini akan mendasari seluruh kisahku, tak terkecuali kisah percintaanku dengan Winu dulu. Selayaknya manusia lain yang roman hidupnya tak pernah lepas dari cinta, aku sepaham dengan kata penyanyi lawas Doel Sumbang, “sebab kita sengsara bila tak punya cinta” dalam penggalan lirik lagunya.

Seiring berjalannya waktu, ternyata aku bukan tipe wanita yang konsisten dalam memaknai cinta (begitulah aku menilai diriku). Saat ABG dulu, bisa dibilang cintaku sangat idealis. Mungkin karena saat itu diriku belum terkontaminasi pergaulan hidup yang lebih liar. Dididik dan dibesarkan dari keluarga yang menjunjung tinggi adat dan adab, cukup membekaliku untuk bisa bersikap idealis dalam banyak hal termasuk memaknai cinta.  Meski itu tak bertahan lama. Idealisku tentang cinta hanya bertahan hingga saat aku duduk di bangku kuliah saja. Dimana aku masih selalu memegang teguh tatanan norma, jauuuuh dari bayangan free sex. Jangankan berciuman dengan lelaki, bersentuhan tanganpun sangat tabu bagiku saat itu. Kenapa kubilang “lelaki” bukan “pacar”? Sebab saking kuatnya prinsip idealisku dimasa ABG itu, hingga sampai mengenyam bangku kuliahpun aku masih belum pernah berpacaran dalam arti “kebanyakan” yang dijalani anak muda sekarang. Kalaupun ada lelaki yang hadir dan menorah rasa dihatiku, bisa dibilang itu hanya sebatas bayang-bayang. Karena cintaku tak pernah kutindaklanjuti dengan sempurna.  

Setelah aku menjadi sosok yang “merdeka”, dalam arti aku tak lagi bergantung pada jatah bulanan yang harus disiapkan orang tuaku, ternyata benar-benar lain ceritanya. Entah karena rasa kemarukku akan kebebasan, atau mungkin sifat dasarku yang doyan mencoba hal-hal baru, aku menelan cinta demi cinta dalam hidupku dengan begitu mudahnya. Tak dipungkiri, cinta selalu berjalan seiring dengan birahi dan ego. Bahkan selalu meledak-ledak. Aku jadi penikmat cinta yang saat itu kurasakan begitu gurih dan renyah untuk dijalani.

 Kebebasan itu seolah membius lajangku. Merasakan dinamika hidup dirantau orang ternyata mengubah pandanganku tentang cinta. Begitu sederhananya cinta, hingga tak sulit bagiku menemukan cinta itu, seperti halnya aku menambatkan hatiku pada Winu dulu, yang secara tiba-tiba. Bahkan diluar logika dari caraku menerimanya (karena saat itu sedang mabuk). Yah…mabuk dalam arti yang sesungguhnya, mabuk kebebasan, mabuk alkohol  dan barang haram lainnya. Perpaduan kehidupan “hitam dan putih” silih berganti kujalani pada masa transisi itu. Dorongan “birahiku” untuk mencoba-coba “kemaksiatan” begitu kuatnya hingga mampu mendobrak norma yang selama ini kujunjung tinggi. Bukan berarti tanpa “perang batin”.

Aku takkan menyalahkan lingkunganku. Aku juga tak pernah menyalahkan sahabat-sahabatku karena bukan mereka yang menyeretku dalam dunia mereka dan saat itu juga menjadi duniaku. Semua begitu entengnya kujalani tanpa beban, benar-benar “liar”. Mungkin keingintahuanku yang saat itu lebih dominan. Keingintahuan gadis kampung lugu yang hingga menginjak umur 20 an masih memegang kuat prinsip hidup dengan norma-norma agamanya. Lingkungan kerjaku sebagai wartawati benar-benar jadi dunia baru bagiku, sebuah dunia yang mampu membuatku larut dan terjerembab di dalamnya. Aku semakin akrab dengan hingar bingar kehidupan malam.  Eiits…hampir lupa, ceritanya nanti saja. Bukankah sekarang aku hanya ingin ngomongin cinta. Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar cinta atau sekadar sayang pada Winu. Ahh…tak penting lagi lah itu semua, toh ceritanya sudah lewat. Yang kuingat, hampir empat tahun kujalani percintaanku dengannya.  Jadi sekali lagi nanti saja ceritanya. Cerita masa muda yang sebagian membuatku geleng-geleng kepala dan mengurut dada bila mengingatnya. Cerita yang membuatku lebih banyak beristighfar dan melakukan sholat taubat. Bukankah Tuhan Maha Pengampun?

Percayalah, aku takkan ragu untuk mengurainya meski cibiran itu mungkin akan datang dari pembaca yang singgah. Toh setiap manusia pasti punya sisi kelam. Tak selamanya sisi kelam itu harus dikubur dalam-dalam. Kadang sesekali perlu diangkat sebagai refleksi diri, agar kita lebih bisa mawas diri, agar kesadaran dalam memaknai hidup semakin dewasa. Anggaplah kita sedang melihat rekaman hidup kita, yang membuat kita tertawa, bahagia, menangis, sinis, marah bahkan malu pada diri sendiri. Ambil saja makna pembelajarannya. Semakin banyak keruwetan, semakin banyak pembelajaran.

Yang perlu kugaris bawahi, penafsiran orang tentang cinta mungkin berbeda-beda. Ada yang bilang, cinta itu sebuah rasa yang selalu disertai ketulusan. Ada pula yang berpendapat, cinta itu selalu menuntut imbal balik, nah loh?!  Sangat bertolak belakang kan? Makanya aku cenderung memandang dari sudut yang sederhana. Cinta itu, sesuatu yang bisa menggetarkan jiwa, mengaduk-aduk rasa, menjungkir balikkan manusia bahkan untuk seorang perfeksionis atau idealis sekalipun tak akan berdaya dibuatnya. Hal-hal tak logis diluar kewajaran akan dilakukan bila manusia sudah dirasuki yang namanya bibit cinta, tak peduli itu cinta sesaat sekalipun. Sekecil apapun kadar cinta seseorang, kebanyakan akan dibuat “gila” saat terjangkiti.

Jadi, cinta di mataku merupakan sebuah rasa yang kuat, sebuah rasa yang mampu menerangi hidup seseorang ataupun sebaliknya (bila bertepuk sebelah tangan). Cinta selalu indah dirasakan namun tak selalu indah untuk dijalani bila cinta jatuh pada orang yang tak tepat. Cinta selalu menimbulkan birahi bagi siapa saja yang terjangkiti. Tak perlu kusangkal aku tipe wanita yang mudah jatuh cinta. Meski demikian, ketertarikanku pada pria tak main obral begitu saja. Aku tetap punya kriteria, terutama menyangkut “otak”.

Terlepas dari itu semua, cinta sangat layak diapresiasi dan dinikmati dalam hidup ini. Sebab cinta tak datang begitu saja. Bahkan cinta seorang PSK (pekerja sex komersial) sekalipun, tetap layak dihargai. Sekali lagi aku juga sepaham dengan penyair  Kahlil Ghibran dalam kumpulan puisi indahnya “Sayap-sayap Patah”, “…Apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia walau  jalannya berliku-liku…Dan, apabila sayapnya merangkuhmu…pasrahlan serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…“. Betapa kuat makna cinta yang terkandung dalam bait indah tersebut.  Hingga sempat tersirat dibenakku, apa jadinya jika aku tak pernah menikmati cinta yang sesungguhnya hingga diujung usiaku.

Sayangnya tak selamanya manusia punya kesempatan untuk “menikmati” cinta mereka dengan cara yang membahagiakan. Aku yakin, bahkan ada yang memendamnya sampai dibawa mati. Kalaupun menjadi penikmat cinta, semua ada masanya. Seperti masa ku yang sekarang, dimana cara pandangku terhadap cinta sudah jauh beda. Lebih penuh kendali dan “beretika”. Tak lagi meledak-ledak dan penuh birahi. Harus demikian adanya. Fase demi fase kehidupan memang harus dijalani. Semua ada masa dan batasnya. Tah hanya menyesal, aku juga bersyukur pernah menjadi penikmat cinta dimasa lajangku meski berbeda tipis dengan “pendosa” jika dikaitkan dengan norma agama. Aku bersyukur masih cukup punya waktu untuk menyadarinya, bahkan menulisakannya.  **Uniw    

Mabuk Cinta pada Orang Mabuk

by

Hahaha, ya, ini bukan permainan kata. Begitulah memang kejadiannya. Cintaku kepada Uniw, dulu, adalah cinta yang mabuk. Bukan saja karena pesona Uniw bikin aku mabuk, tapi karena aku menyatakan cinta kepadanya di saat dia sedang mabuk. Mabuk dalam pengertiannya yang paling harfiah.

Hari itu, ah… aku bahkan lupa tanggal dan bulannya, mungkin di pertengahan tahun 1997, lebih cepat atau lebih lambat dari itu, aku pertama kali berjumpa Uniw pada sebuah acara di mana kami berdua menghadirinya. Dia pakai setelan rok hitam panjang dan kemeja putih. Mirip pakaian pegawai magang di perkantoran, yang biasa tampil culun dengan badge bertuliskan trainee di dada.

Dari seorang teman akhirnya aku tahu dia memang pegawai baru di sebuah koran harian. Lebih tepatnya, seorang calon reporter baru. Ah, pantas kok kelihatan lugu. Tapi wajahnya manis. Rambutnya sebahu. Kulitnya kuning bersih. Perawakan mungil, masih unyu-unyu khas gadis umur awal dua puluhan tahun.

Jauh dari stereotype “jatuh cinta pada pandangan pertama”, aku lupa apakah perjumpaan kami untuk kali pertama itu memberi sebuah kesan. Buktinya sekarang pun aku bahkan lupa punya kesan apa mengenai pertemuan pertama itu hahaha. Aku juga lupa apakah di perjumpaan awal itu kami bertegur sapa, saling memperkenalkan diri, berjabat tangan, atau sekadar say hi.

Yang pasti lebih kurang satu atau dua bulan setelah itu, tentu saja setelah berjumpa lagi dengannya beberapa kali pada kesempatan yang berbeda, kami akhirnya dipertemukan pada sebuah pesta terbatas di sebuah klub malam, di kota lain yang berjarak 3 jam perjalanan darat dari kota tempat kami tinggal. Aku bersama teman-temanku, Uniw bersama teman-temannya. Lalu bertemu begitu saja di klub malam itu.

Karena dari kelompok yang berbeda, meskipun saling mengenal, kami sibuk dengan keriaan masing-masing. Sampai pesta berlanjut dan entah bagaimana pada saat bubaran aku terdampar di dalam mobil bersama kelompoknya Uniw. Aku sungguh lupa kenapa waktu itu bisa terpisah dari kelompokku hahaha

Tahun-tahun akhir 90-an itu boleh dibilang masa booming hiburan malam, dengan gempita house music dan pil ekstasi. Sehingga aku tak kaget ketika tau Uniw bersama kelompoknya sengaja keliling kota dengan musik berdentum-dentum di dalam mobil, karena mereka masih “on” sedangkan klub malam sudah bubaran. Aku sendiri termasuk “cowok lugu” yang tak berani menenggak ekstasi. Tidak berani minum alkohol. Alim sekali hehehe… Eh, ini beneran. Tanya sendiri kepada Uniw bila kau tak percaya.

Maka aku jadi satu-satunya orang waras di dalam mobil itu. Ah, mungkin dua dengan yang mengemudi. Aku tak mengenal si pengemudi. Aku duduk di belakang, bersebalahan dengan Uniw, yang tampak asyik menikmati musik. Kepalanya geleng-geleng, mengangguk-angguk, badan bergoyang kiri-kanan… Hahaha, tripping… ya itulah yang disebut tripping itu.

Dalam keadaan sambil tripping itulah, aku melihat Uniw menangis. Lalu semua terjadi begitu saja. Aku memeluknya. Dia menyandarkan kepala di bahuku. Lalu aku berbisik di telinganya, mengatakan bahwa aku suka sama dia. Dan Uniw menjawab cepat, mungkin dengan setengah meracau, jawaban dari mulut orang yang tak sepenuhnya sadar karena sedang dipengaruhi ekstasi: “iya… tolong bimbing aku ya Winu…”

Entahlah apa yang membuat aku suka. Jelas-jelas orangnya sedang mabuk. Malah ditembak diajak jadian. Entah apakah dia menjawab dari hatinya. Yang pasti sejak saat itu kami berdua dekat. Mulai sering jalan berdua, dan akhirnya pacaran.

Rules of the Blog

by

Jadi begini. Pada dasarnya kolaborasi ini bermula dari entah kegenitan atau kerinduanku kepada Uniw. Ya, sesuatu yang sampai posting ini kutuliskan belum pernah kukatakan secara terus terang kepadanya.

Bertemu lagi dengan Uniw di Facebook, setelah lebih satu dekade berpisah, wanita dari masa laluku ini kembali menghadirkan romansa yang pernah terbangun di antara kami berdua. Sahut-sahutan di status, saling memberi komentar di kiriman foto, sesekali menyapa kawan-kawan lain yang mengenal kami, sebenarnya berlangsung biasa saja. Aku sibuk dengan hidupku. Dia pun sibuk dengan hidupnya. Rasanya tidak ada cukup waktu untuk sekadar berpikir membangun sesuatu yang baru, apalagi menyambung cerita yang dulu pernah ada.

“Aku sih biasa aja, nggak ada perasaan apa-apa lagi kok. Aku bahkan bersyukur melihatmu tampak bahagia sekarang ini,” kataku kepada Uniw. Tentu saja kami berbincang lewat inbox FB, yang private, tak diintip orang lain. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin mengatakan itu kepadanya.

Lalu kami saling bertukar PIN blackberry. Kemudian obrolan berlanjut lagi. Sesekali mengenang cerita masa lalu kami yang begitu bergelora, meledak-ledak dan, kalau Uniw bilang sih, indah meski agak membabi buta hehehe.

“Dan aku sudah menulis kisah kita itu lho. Udah jadi naskah novel malah. Tapi kusimpan aja untuk koleksi pribadi,” Uniw membuka cerita.

Haaaa…. Apaaa? Aku terkejut. Lalu surprised. Aku tau Uniw pernah menjadi reporter surat kabar di kota kami tinggal dulu. Tapi menulis novel? Itu nggak dia banget deh.

Maka akupun memaksa dia mengirimkan naskahnya. Kuberi alamat emailku. Kuminta dia mengirimkan secepatnya. Nggak sabar mau baca. Selain ingin tau apa dia memang benar-benar bisa menulis (sampai sekarang kadang aku memang meragukan hal itu hahaha), aku juga mau tau dia menulis apa tentang aku. Kisah baik kah? Atau kisah buruk mengingat memang ada sejumlah sikap buruk dariku yang membuat hubungan kami dulu itu bubar begitu saja.

Uniw berjanji mengirimkan naskah itu pada kesempatan pertama sepulangnya ke rumah nanti. “Karena filenya ada di external disk di rumah. Dan ini aku masih di kantor…”

Beberapa tahun terakhir, setelah menikah dengan lelaki teman masa kecilnya sejak SD sampai SMA, Uniw bekerja di sebuah kantor penerbitan di kota tempat ia tinggal. Kota di mana dulu cinta kami bersemi, mekar, lalu bubar itu. Kota yang sudah kutinggalkan lebih satu dekade, bersamaan dengan aku meninggalkan Uniw. Meninggalkannya begitu saja.

Uniw bertahan di kota itu, kota rumah cinta kami itu, yang sebenarnya bukan kota asalnya juga, tetapi justru kota asalku, menjalani hidup berliku yang… ah, biarlah nanti Uniw sendiri yang bercerita. Sementara aku melanglang ke kota-kota yang jauh, sampai akhirnya berlabuh di kota tempat aku tinggal sekarang, yang berjarak ratusan kilometer dari kota Uniw tinggal, menyeberang laut karena berbeda pulau, dan perlu sekurangnya 2 jam durasi perjalanan dengan pesawat terbang.

Hari itu, hari saat Uniw berjanji mengirimkan naskah itu, hatiku sumringah. Kalau saja ada bibit bunga ditabur di hatiku saat itu, pasti akan langsung tumbuh subur. Maka dua jam kemudian setelah kulihat status BBM-nya yang menyebut kata syukur sudah sampai di rumah, naskah itu langsung kutagih. “Mana? Udah diemail belum? Aku nunggu nih…”

Uniw mengirim icon tertawa. Lalu icon tepok jidat. Dia bilang masih rempong ngurusin dua putri kecilnya. “Gini deh nasib ibu mandiri tanpa bantuan asisten. Semua dikerjakan sendiri. Pulang kerja, ngurus anak dulu,” katanya.

Sampai malam melarut, dan mungkin dia kelelahan, aku tak menagih lagi. Kupikir dia pasti tak sempat buka laptop untuk mengirimkan naskah itu. Aku masih bisa menunggu besok. Akupun tidur bersama mimpi tentang seorang peri, yang mendongeng kepadaku mengenai kisah cinta dua remaja yang samar-samar mirip aku dan Uniw. Ah, mellow sekali.

Esoknya, kabar itu bikin aku terkejut untuk kedua kalinya. Uniw bilang external disk-nya error. Tak bisa dibuka. Foldernya blank, tidak ada isi file apa-apa. “Padahal semua fileku di sini, termasuk foto-foto,” katanya.

Berbagai cara dicoba, sampai beberapa hari kemudian, Uniw menyerah. Hilang sudah naskah itu. Catatan mengenai perjalanan hidup, yang aku sempat sedikit ge-er di dalamnya ada banyak cerita tentang aku. “Ya sudah, tulis lagi aja,” kubilang…

Pasti tidak gampang. Apalagi Uniw sibuk sekali sekarang. Bekerja. Mengurus anak. Mengurus rumah.

Lalu entah ide dari mana, dia minta dibuatkan blog. “Aku dulu punya blog, tapi sudah lupa password-nya. Nggak bisa kubuka lagi. Lupa juga cara bikin posting. Kamu bikinin aja yang baru ya…. Ya… ya… plisss,” dia merengek… Ah, rindunya aku pada rengekan wanita ini hahaha…

Maka lahirlah blog ini. Ternyata malah bukan blog untuk Uniw sendiri. Tapi untuk kami berdua. Saat ingin membuatkan blognya itu, terpikirlah di kepalaku kenapa tidak membuat sesuatu yang kolaboratif saja: “sebuah blog yang diisi dua orang, aku dan kamu,” kataku setengah merayu.

Rupanya yang dirayu langsung setuju. “Ide yang bagus. Aku mau. Pasti rame ya kita nulis dengan gaya kita masing-masing, dengan perspektif kita, dengan sudut pandang kita, tapi ditampilkan di tempat yang sama,” katanya.

Lalu disepakatilah rules of the blog versi kami berdua. Berlaku hanya untuk blog UniwinU ini saja. Yaitu:

Penulis anonim. Sebab berbahaya sekali buat keluarga dan rumah tangga kami masing-masing, kalau sampai pakai identitas asli. Gimana aku dan Uniw bisa menuliskan kisah cinta masa lalu kami, juga perasaan-perasaan kami saat ini, secara apa adanya, kalau dengan identitas asli? Masing-masing kami punya pasangan yang harus dijaga perasaannya.

Tidak saling intervensi. Dengan dua penulis, blog ini dikelola oleh kami berdua, tanpa pihak ketiga yang menjadi editornya. Tidak juga di antara kami boleh saling mengedit. Sehingga Uniw bisa menulis apapun, termasuk tentang aku, begitupun sebaliknya.

Boleh saling menanggapi. Mungkin akan ada tema-tema tertentu yang membuat aku dan Uniw akan tidak sependapat. Menjadi berdebat. Atau malah saling bantah. Entah kisah masa lalu yang tak sesuai versinya, atau perspektif yang memunculkan ketidaksetujuan salah satu pihak. Jadi, mohon jangan kaget kalau nanti kami berbeda pendapat – sebab itulah juga salah satu sisi menarik hubungan kami dulu, kalau kau mau tau hehehe.

Boleh memuji. Tentu saja, mengingat kami tampil anonim, maka memuji tidak dilarang. Termasuk bilang rindu dan sayang. Aiiiisshhh… kapan lagi, mumpung anonim ini.

Menulis apa saja. Bisa tentang masa sekarang, boleh mengenai masa lalu. Tema apa saja, apakah urusan di luar hidup kami, atau tentang hidup kami sendiri. Uniw boleh menulis tentang aku. Aku boleh menulis tentang Uniw.

Menulis bebas. Boleh panjang, boleh pendek. Bisa straight, bisa naratif mendayu-dayu penuh metafora.

Apa lagi ya… hmmm, apa aja deh. Sebab memang kami boleh bikin apa saja di blog ini. Suka-suka kamilah hehehe….

Dan, satu yang terpenting sebenarnya. Kami, atau aku barangkali (karena ini kutulis tanpa konfirmasi kepada Uniw lebih dulu) ingin menegaskan bahwa hubungan kami ini benar-benar hubungan maya di blog ini saja.

Jadi percayalah ini bukan CLBK (cinta lama belum kelar), atau whatever you name it, bukan pula keisengan menjelang puber kedua, apalagi kami sama-sama punya keluarga yang, insyaallah bahagia, di kota yang saling berjauhan, dan tak samasekali berniat berselingkuh. Terutama selingkuh sama mantan. Kalau sama yang baru sih (seandainya ada…) emmmm, gimana ya… aku pikir-pikir dululah hahahaha

Bukan Ini Kisahnya

by

Sebelum kumulai babak per babak kisahku, ada baiknya kubuka sedikit siapa aku. Aku yang dalam penokohan di blog ini disebut uniw, bukanlah penulis sohor laiknya Ayu Utami yang sangat dikagumi mantanku. Aku juga merasa tak dilahirkan dengan karunia terdahsyat sebagai penutur kisah. Aku hanya sangat menghormati misteri kehidupan sehari-hari yang sangat lazim. Yang sangat mendorong hasratku untuk mengisahkannya, meski kadang akan sangat emosional. Jadi bukan sebatas dorongan ingin menjadi penulis yang diakui.

Mungkin percikan beberapa kisah akan saling mendukung bahkan saling membantah dalam “perkawinan” kisah di blog ini. Semua kisah akan keluar dari masa diriku yang sekarang, saat aku benar-benar merasa menjadi wanita yang sesungguhnya. Saat aku mengidamkan menjadi sosok perempuan yang akan diidolakan  anak-anakku kelak. Saat aku ingin menyerahkan seluruh hidupku untuk keluarga tercintaku. Bukan saat aku masih menjadi ABG (anak baru gedhe) labil, bukan saat dalam kondisi aku terjun bebas dimana tiba-tiba menjadi ibu empat orang anak yang tak kulahirkan. Bukan pula saat aku masih janda labil dulu. Namun tak pula kuanggap diriku ini seorang Dewi (dari sisi seorang istri yang penuh pengabdian dan keikhlasan).

Semua terlahir dari kondisiku yang normal sekarang ini.  Meski sejumput kisah diantaranya akan terinspirasi dari masa itu, masa-masa lajangku yang kadang kuanggap kurang biasa atau mungkin sangat biasa dari sudut pandang orang lain. Aku yakin di tiap tepi akan selalu ada sesuatu yang lain yang menyentuh.  Ada kecewa, ada bahagia, ada nestapa, ada penghianatan, ada pemberontakan, ada perjuangan yang semua itu kuanggap sejarah hidup. Kini perlahan-lahan sejarah itu akan kulukis agar tak pudar dan menghilang begitu saja. Bukankah yang namanya sejarah selalu diceritakan? Kalimat muluknya, aku ingin menciptakan dunia baru di blog ini.

Seperti halnya perjalanan hidupku yang penuh liku, proses pembelajaran diri menjadi wanita yang terus tumbuh baik secara fisik dan psikis pun sangat penuh warna. Mungkin serumit rintangan proses penuangan kisahku ini. Karena saat menulis pengantar inipun aku sambil memangku anak bungsuku yang terus merengek dan merengek jika melihat bundanya mulai asyik dengan lap top. Sebagai ibu rumah tangga sekaligus wanita pekerja tanpa asisten di rumah, bisa dibayangkan bagaimana ribetnya. Apalagi dua buah hatiku saat ini masih kecil-kecil, menyisihkan sedikit waktu untuk menulis  sangatlah mahal bagiku. Mungkin sedikit lebih mudah jika kutulis di kantor saja, namun tetap saja lebih nyaman kutulis di rumahku sendiri. Aku bisa sambil mencuci baju dan menyuapi anak-anakku.

Intinya, dalam kesesatan dan pencerahan jiwa, banyak pembelajaran moralitas yang akhirnya kureguk. Tak ada sepenggal kisahpun yang kusesali. Semua kisah kunikmati dan kujalani seperti air mengalir. Klise sekali bukan? Tapi ya memang begitu, ini jalanku, ini hidupku dan inilah kisahku. ** uniw

Hasratku

by

Entah dari mana harus kumulai. Saat kupikir semua akan biasa-biasa saja, tak demikian dengan pendapat “mantanku”. Mengapa harus kuungkit-ungkit pendapat mantan, bukannya ingin mengingat-ingat masa lalu, bukan pula aku tipe pribadi yang susah move on, tapi awal keberanian ini karena hasrat yang sedikit meledak-ledak setelah “sapaan” itu.

Yaah… sekadar hasrat untuk bertutur, hasrat untuk berkisah. Jangan berharap akan ada kalimat …ciyus…miapah…cungguh…dalam tuturku nanti, sebab umurku sudah lebih dari seperempat abad, bahkan kian meluncur mendekati setengah abad. Mungkin ini sekedar awal keinginanku untuk menghadirkan lanskap persoalan hubungan yang pernah kulewati, baik dengan saudara, teman, sahabat dan mantan sekalipun.

Seolah dipertemukan dalam dimensi yang berbeda, tentu sangat merubah cara pandang seseorang. Tanpa bermaksud sedikitpun untuk “bermain api”, hasratku sungguh ingin melanjutkan “jalinan” ini. Seperti Sir Iscaac Newton yang menemukan hukum gravitasinya yang terkenal itu. Jika Newton sangat terkenal dengan teori apel jatuhnya, dimana sebuah versi menjelaskan bahwa ketika dia sedang istirahat di bawah pohon apel, tiba-tiba sebuah apel jatuh di kepalanya dan hal itulah yang mengilhaminya tentang gravitasi. Ilham kepedean ini juga datang begitu saja. Saat kesempatan terhubung kembali dengan mantan pacar lewat dunia maya itu terjadi. Bukan bermaksud ingin melarutkan diri dalam euforia menyenangkan dibalik cerita gejolak kawula muda, sekali lagi ini hanya hasrat untuk berkisah. Hasrat untuk berbagi cerita terlepas nanti akan menarik atau tidak.

Aku yang selama ini diam dan sembunyi, tak ada salahnya untuk sesekali unjuk gigi lewat kolaborasi ini. Siapa tau ini akan menjadi awal yang baik untuk menggali jati diriku sebagai penulis. Ups…penulis?? kadang muncul rasa risih dengan sebutan itu. Apa iya aku pantas disebut penulis, jika aku belum punya buku. Apa iya aku bisa dibilang penulis kalau belum pernah mengisi sebuah kolom di surat kabar yang terkenal? Aku juga bukan sastrawan yang gemar menulis bait puisi-puisi indah. Jadi, penulis macam apa aku ini?  Itulah yang ingin kugali, sebenarnya agak egois memang karena ini tentang “menggali kemampuanku sendiri”. 

Meski selama sepuluh tahunan ini aku sembunyai pada sebuah media lokal, bukan berarti aku tak ingin dikenal sebagai penulis. Hasrat itulah yang akan kutumpahkan dalam blog ini. Dengan sedikit variasi “kolaborasi” dengan mantan yang juga penulis mungkin akan menjadi vitamin tersendiri bagiku. Secara, seperti halnya iman yang selalu naik turun, demikian pula dengan hasrat menulisku.

Dalam setiap langkah yang akan kuambil, aku selalu punya keyakinan. Seperti halnya langkah kolaborasi ini. Aku yakin tak akan ada pihak-pihak yang tersakiti, meski awalnya agak enggan dan canggung membuat anonymous writernya, karena sedikit sensitive bagi orang-orang tertentu. Aku sadar, sekarang aku istri dan ibu dua orang anak yang bahagia (heheheee). Begitu juga dia, yang sekarang adalah seorang suami dan bapak dari tiga anaknya. Aku juga yakin bahkan “suamiku dan istrinya” akan sangat legowo memandang ini. Karena ini tak berarti apa-apa, jauh dari makna jatuh cinta lagi. Kalaupun kami bersatu kali ini, benar-benar  hanya ingin membuat “kudapan hangat” sekadar untuk sajian penghangat suasana. Soal rasa, itu selera Anda!

Keyakinanku terhadap cara pandang orang-orang terdekatku mungkin tak jauh beda dengan keyakinan kaum wanita yang punya WC duduk di rumah mereka. Dari proses dan cara merenung yang berbeda inilah yang mungkin akan melahirkan pikiran-pikiran lebih terbuka. Tidak Jaim, tidak munafik atau sok suci, pun melewati batas. Karena tak dipungkiri, walau sebagian besar tertoreh dari kisah nyata, cerita-cerita ini nanti akan banyak terilhami dari sana, dari proses perenungan paling awal dalam hidup setiap manusia. Maaf, vulgarnya saat bangun tidur ke toilet dan duduk di atas closet. * uniw